
CAMPUS SCANDAL
SPIN OFF – JONGIN HANA STORY
Kim Jongin / EXO Kai || Lee Hana / OC || Others
Alternative Universe, Adult, Campus Life, Romance
5800 Words || PG 17
If you don’t like my writing style here, better off from this fic!!!
Related To :
CAMPUS SCANDAL (NC-17) || CAMPUS SCANDAL – FIRST IMPRESSION (PG17) || CAMPUS SCANDAL -FIRST INTERCOURSE- (NC17) || CAMPUS SCANDAL – STRONG ATTACHMENT [NC-17] ||
JONGIN HANA STORY 1
© neez
And they seal the deal
”Hi Guys~” Dengan wajah berbinar-binar, mungkin karena faktor Mac Viva Glam Miley Cyrus-nya yang terbaru juga, atau mungkin karena tote Prada-nya, atau mungkin karena sepatu Christian Louboutin-nya.
Atau mungkin bukan karena itu semua, Oh Jaehee datang dengan wajah sumringah. Merangkul bahu sahabatnya dan mengecup pipi Hana, hingga jelas-jelas ada bercak coral ala Mac Viva Glam-nya yang menggelora (dan baru launching kemarin di website Mac).
”Someone had a good night,” seringai Baekhyun, dan Jaehee hanya balas menyeringai kepadanya.
Jinmi dengan caesar salad-nya mengerjap-ngerjapkan kedua matanya yang mengenakan mascara bening, menatap Jaehee. ”Is that Viva Glam? Damn bitch, it’s just released yesterday! How could you…”
”Dari RapMon…” Jaehee menyeringai. ”Kakaknya atau entah siapa kembali dari California semalam, so…”
Jongin menggeram, ”So that’s why you ditch me? For Mac Viva Glam? Seriously Oh Jaehee.”
Jaehee terkekeh dan membelai rambut Jongin main-main, ”Life is sucks for you, Kim Jongin. By the way if you could get me new Tom Ford lip gloss…”
”No! Never!”
Hana mengaduk-aduk cream soup di hadapannya. Percakapan antara Jongin yang duduk di sebelah kirinya, dengan Jaehee yang duduk di sebelah kanannya mendadak membuat selera makannya hilang. Setidaknya hanya sedikit ’hilang’ karena… Jongin menolak Jaehee?
”By the way, kalian pergi kemana semalam? Begitu aku kembali ke tempat kita kalian berdua sudah tidak ada,” tanya Jaehee sambil mengeluarkan bedak Chanel-nya dan memeriksa penampilannya.
”He went with Hana in the end,” kekeh Jongdae, membuat Chanyeol, Baekhyun, dan Sehun terbahak-bahak.
Mengingat kejadian semalam, Hana jadi sedikit bergidik dan memutuskan lebih baik tidak menjawab pertanyaan Jaehee. Biarkan saja mereka berpikir dia pergi dengan Jongin, batinnya sambil mengaduk supnya.
”So you went with Hana? It’s so nice… you guys going solo last night,” Jaehee mengangguk-angguk, ”He’s so pissed last night after I went to RapMon, so did he do you rough?” tanya Jaehee penasaran.
Dan Hana tersedak.
”Damn! Kapan Kim Jongin tidak rough, kenapa kau perlu bertanya.” Omel Sehun pada Jaehee yang nyengir.
Jinmi geleng-geleng kepala sambil menahan senyum.
Jongin berdecak, ia melirik Hana yang sepertinya menunjukkan tanda-tanda bahwa ia tidak ingin membahas apa yang terjadi semalam. Lalu berkata, ”I just went home with Hana, and didn’t do anything you dirty minded as*holes!”
Mendengar jawaban dari The King yang mengklarifikasi segalanya, meski dengan jujur, tidak membuat keadaan jauh lebih baik rupanya. Jaehee, Jinmi, Baekhyun, Chanyeol, Jongdae, dan Sehun kini menatapnya dengan pandangan tidak percaya.
”Are you… perhaps, drunk now Kim Jongin?” tanya Jongdae menempelkan punggung tangannya pada dahi Jongin, yang langsung ditepis dengan kasar oleh sang pemilik yang tertawa garing.
”You guys didn’t do anything? Why?” tanya Sehun heran.
”Not everyone as pervert as you are, Oh Sehun.” Kata Jongin sambil mengedip, dan statement-nya barusan jelas disambut oleh tawa mengejek dari seluruh sahabatnya. Kim Jongin mendefinisikan pervert tidak seperti dia?
Jinmi menggelengkan kepalanya, ”Listen, you Kim Kai. If you called this guy,” ia melirik Sehun, ”A pervert, and what should I call you, Honey?”
”A Charming man?”
Semua membuat suara muntah bersama-sama, kecuali Hana.
”But shush, Hana… are you sure, you’re okay? Did Jongin smack you too hard or something?” tanya Jaehee khawatir, dan kini malah melirik Jongin tajam. Jongin mengangkat kedua tangannya. ”You seems so quiet today.”
Hana tersenyum kecil, ”I’m just tired I guess… I don’t have enough sleep last night, after I went home.”
”Poor you… ya, Oh Sehun, belikan Hana jus jeruk!”
Sehun melotot, ”What?! Why?!”
”Don’t you see? She’s sleepy and gloomy… she needs more sugar and vitamin C!” omel Jaehee, ”Now go, shush!”
Bersungut-sungut, Sehun pergi menjauh dari meja mereka untuk membelikan Hana jus jeruk yang dimaksud oleh Jaehee.
“Just don’t come to the class if you still not in good conditions. You better sleep at your house… listening to Professor Kwon will make your blood pressure drop.” Jaehee menepuk-nepuk kepala Hana yang terkekeh geli.
Jinmi menendang kaki Baekhyun di bawah meja, yang ditendang memelototinya dan mengusap kakinya.
”Jam berapa?”
”Oh, its nine o’clock.”
”Arrgggh Professor Kwon,” gerung Jongdae sambil berdiri dan menguap. ”I also barely had sleep last night. Can I absent today?”
”No!” tegur Jinmi sambil kembali menendang, kali ini betis Jongdae yang jadi sasaran. “You already missed the class three times.” Jondgae kembali mengeluh dan terpaksa mengikuti Chanyeol dan Baekhyun yang sudah berdiri dan beranjak pergi dari bangku tempat mereka duduk.
”You have to come, you know it Oh Jaehee.” Jinmi menyandangkan tasnya dan juga menunjuk Jaehee yang hampir sama seperti Jongdae menunjukkan tanda-tanda ketidakinginan untuk menghadiri kelas, ”Babe, you want to sit near me?” Jinmi kemudian beralih dan memberikan Jongin kedipan maut, yang biasanya tidak akan pernah bisa ditolak oleh Jongin.
Jaehee menggeleng, ”Will never do any ‘job’ on her class.”
“Pussy,” Jongin menjulurkan lidahnya pada Jaehee, namun melihat Hana yang masih saja diam, Jongin menghela napas dalam-dalam dan menggeleng. Wajahnya sengaja dibuat-buat sangat menyesal, ”Maybe next time, dear.”
Jinmi menghela napas, ”Well this class surely getting boring. Come on, Miley Cyrus, we need to go!” menarik Jaehee yang mendesis keduanya melambaikan tangannya pada Hana yang hanya tersenyum lemah dan sedikit membalas lambaian tersebut.
”You’ll not gonna attend Kwon’s class?” tanya Jongin setelah seluruh sahabat mereka berlalu dari meja.
Hana menggeleng, ”I’m sleepy.”
”Funny, you always up all night for clubbing… but, yeah, I know… last night must be drained you out,” Jongin mengangguk, ”What you wanna do?”
Baru saja Hana hendak menjawab, Oh Sehun muncul dan meletakkan sebotol jus jeruk di hadapannya dan Jongin. ”Here, Honey… drink this, you really need a color on your pretty face, without blush on.”
”Thanks, Sehun.” Kekeh Hana untuk pertamakalinya pagi ini. Ia meraih botol berisi jus jeruk favoritnya, tepat dari coffee shop yang sering ia kunjungi di sudut jalan. Ia menenggaknya dan menghela napas lega.
Sehun menatap sekeliling meja dengan heran. ”Apa aku ditinggalkan lagi, atau kalian berdua baik hati sekali mau menemaniku?”
”You wish!”
”No, I’m not going to class… but seriously thank you Sehun, you always knew my favorite.” Hana terkekeh dan berdiri, “I think I need to go home now,” ia memberitahu Jongin yang terlihat sedikit… bingung atau kaget?
Sehun berdiri, ”Why? Are you okay?”
”Nah, not in the mood, because I can’t sleep last night.”
Sehun mengedipkan matanya dan satu tangannya mulai membelai lembut lengan Hana, ”Want me to accompany you?”
”No, Sehun!” mendadak Jongin berdiri dan menurunkan tangan Sehun dari lengan Hana, ”She’s not in the very good conditions right now,” kedua mata hitamnya sedikit berkilat dan entah kenapa rasanya Jongin berusaha keras untuk menjaga suaranya agar tidak terdengar seperti memerintah Sehun, atau posesif terhadap Hana?
Hana tersenyum kecil pada gestur Jongin, ”Right, sorry Sehunnie… maybe next time. I really need to go home.”
”Alright,” dengan berusaha menahan keheranannya melihat sikap Jongin. ”And you, Helena from Contemporary Dance Department asked me your number, she said you and her have an ‘appointment’ today.”
Jongin menatap Hana yang balas menatapnya.
”Well, I…”
Hana terkekeh, ”I’m not going to hear you guys make an ‘apointment’ here, so lemme go home first… bye~”
Sehun melambai dan membiarkan Hana pergi sementara Jongin menggigit bibirnya, cemas melihat Hana yang justru terlihat murung padahal tadi pagi ia sudah mengatakan resolusinya dengan penuh semangat.
”Alright, so… Helena…”
”Dude, if you want her you can have her, I really need to go.” Potong Jongin saat melihat Hana sudah menghilang di ujung koridor terbuka tersebut. Jangan-jangan gadis itu justru baru akan melakukan hal bodoh sekarang, pikirnya khawatir.
Sehun menatap Jongin heran, ”Where? Ah, do you have another meeting with another woman? Damn you Kim Jongin, you always got better one… kemudian yang ampas disisakan untukku,” sungut Sehun. ”You owe me threesome date, once!”
Jongin menyeringai dan meninggalkan Sehun begitu saja yang masih melongo. Sehun melipat tangannya dengan heran saat melihat Jongin bukannya berlari menuju Maserati-nya di halaman parkir, namun malah…
Mengikuti Hana.
”Something happened between them.”
* * *
”You’ll go home with taxi?”
Hana mengerjap dan menoleh, terbelalak melihat siapa yang mengikutinya. Kim Jongin dengan seringainya yang biasa.
”What are you doing here?” tanya Hana heran.
”Just to make sure you’re not doing something stupid,” sahut Jongin, namun saat Hana menatapnya dengan pandangan ‘are you really?’ Jongin mengangkat bahu, ”Noona hampir setiap kali sendiri selalu mencoba bunuh diri, dan aku tidak mau itu terjadi padamu, Lee Hana. You’re my friend.”
Hana terkekeh, ”Thank you, for your concern. Tapi percayalah aku masih ingin hidup,” kekehnya, ”I’m not done taking revenge on the one who raped me.”
”Hana…” Jongin membelalak.
Hana tergelak melihat ekspresi Jongin yang menurutnya lucu. ”Kidding, you silly. I’m just really… sleepy.”
”Suruh siapa kau tidak tidur semalam?”
Hana hanya tersenyum, “And you… now you know that I’m not gonna committing suicide, what will you do?”
”Ah,” Jongin menggaruk tengkuknya yang mendadak terasa gatal.
”Don’t you have an appointment with… who’s the name again?”
Jongin mengangkat bahu, ”Agatha?”
”Please, Jongin… you’re already forgot her name?” kekeh Hana geli. ”Now go, she’ll wait for you.” Hana tersenyum, dia tidak mungkin mengharapkan Jongin akan terus berada di sisinya seperti teman-teman wanitanya. Tidak dipungkiri, Hana sangat menikmati kehadiran Jongin semalam. Tanpa agenda seksual.
Sebelumnya, dia hanya menganggap Jongin teman yang biasa-biasa saja. Ia sendiri sebenarnya lebih suka menceritakan masalah yang ia hadapi pada dua sahabat wanitanya; Jaehee dan Jinmi. Dengan para lelaki, Hana pun sebenarnya jauh lebih dekat dengan Sehun dibandingkan dengan Jongin sendiri. Maka, untuk pertamakalinya sejak semalam, ia menemukan sesuatu yang lain pada diri Jongin.
Tapi, itu hanya dia saja kan? Please, Jongin always has his needs, jauh lebih banyak dibandingkan teman-teman prianya yang lain. Beberapa kali mereka berdua terlibat hubungan dengan label ’no strings attached’ namun tidak pernah membuat Hana merasa ’dekat’ dengan Jongin hingga semalam.
Bertukar rahasia memang benar-benar telah menjadikan orang semakin dekat satu sama lain.
”You… do you… want…”
”Cheeseburger?” kekeh Hana.
Jongin menggeleng, semburat kemerahan kembali menghiasi kedua pipinya yang tirus. ”You know… I mean, I know you like orange now…”
”What?”
”Before… in the table, you said you like orange.” Gumam Jongin, ”Maybe you want orange now…”
Hana tertawa, namun sedikit tersentuh juga. Please, sejak kapan Jongin bisa sebegini sensitifnya terhadap kesukaannya? Apa karena sejak semalam ia selalu menolak tawaran cheeseburger dari Jongin? Padahal tadi meja hanya sekedar gumaman terima kasih karena Sehun tahu betul bahwa ia selalu senang membeli jus jeruk dari kedai kopi kecil di dekat kampus.
Dan Jongin langsung mencatat di dalam otaknya, yang kalau menurut Jinmi isinya selain dada wanita atau lingerie Victoria Secret tak ada apa-apa lagi.
”That’s very sweet of you, but… I don’t think it’ll be good for my stomach if I drink too much orange.”
Dan wajah Jongin semakin memerah. ”I’m sorry…”
”But I think I want to eat cheeseburger.”
* * *
”This is my sister’s favorite burgers stall. And she really loves cheeseburger. So I hope you love it as much as my sister…”
Hana menerima sebungkus cheeseburger yang Jongin keluarkan dari dalam paper bag. Keduanya duduk di dalam Maserati Jongin yang di parkirkan di taman, didekat konter burger favorit Noona Jongin.
”Thank you,” Hana bergumam sambil membuka bungkus cheeseburger-nya dan langsung mendapati lelehan keju yang menutupi beef yang disumpal diantara dua roti berwarna kecokelatan. Wangi burger ini luar biasa sehingga Hana yang tadi pagi sudah kenyang makan pancake buatannya sendiri kembali lapar. ”Wow…”
Jongin menyeruput cola miliknya sambil melirik Hana penuh harap, ”Come on, try it.”
”Alright…” Dengan satu gigitan besar, Hana berhasil memakan cheeseburger yang sangat diagung-agungkan oleh kakak Jongin tersebut. Mengunyahnya selama beberapa saat sebelum menelannya, dan kembali menggigit potongan burger tersebut. ”Hmm, I think I know why your sister love this soooo much, I mean… wow, for a little stall on the park, it sell the best burgers.”
”Told you so…” gumam Jongin puas dan mengeluarkan prawn burger miliknya.
Hana mengunyah dengan senang sambil menyandarkan punggungnya pada jok Maserati Jongin sambil tersenyum.
”Tsk, look at your eyebags.” Tiba-tiba Jongin mendapati kantung mata Hana yang terlihat begitu jelas jika dilirik dari tempatnya duduk saat ini.
Hana menoleh, ”Why?”
”It looks terrible, you really need some sleep, I swear.”
Hana membalik tabir di atas kap mobil dan memeriksa bayangan matanya pada cermin yang terletak di sana, ia terkekeh. ”No it’s not. Sudah biasa seperti ini… ini belum yang paling parah. Aku terlihat separah ini karena aku tidak memakai riasanku yang biasa. Not even concealer.”
”Seriously?” tanya Jongin heran, kenapa dia tidak pernah menyadarinya sebelumnya.
Hana mengangguk, ”Ini biasa saja… aku mau pulang selain karna aku memang mengantuk, karena ya begini. Aku hanya membawa cushion. Wajahku parah sekali…” gumamnya dengan sedih sambil menatap burgernya.
”No no no… I didn’t mean to tell you that you look terrible, no!” sergah Jongin buru-buru khawatir Hana salah terima dengan perkataannya. ”I’m just… your eyebags looks so… you need to sleep.” Ia menambahkan kalimat terakhir dengan pelan karena Hana hanya tersenyum sedih menatap burgernya.
”That’s okay.”
Setelahnya, entah kenapa Hana kembali menjadi diam. Dan Jongin terlalu merasa bersalah sampai-sampai ia sendiri bingung mengapa ia harus merasa bersalah pada Hana? Bukankah gadis itu sudah bilang tidak apa-apa? Sudah bukan urusannya lagi kan? Ah, apa dia merasa begini karena Hana mungkin masih sensitif karena kejadian semalam.
”Thanks for driving me home, Jongin.” Hana berkata setelah satu jam kemudian Jongin mengantarkannya pulang sampai di rumah. ”Drive safely, bye.” Hana melambai sebelum masuk ke dalam rumah mewahnya yang pintunya dibukakan oleh pelayan dengan stelan jasnya.
Jongin menggelengkan kepalanya kuat-kuat, ”Alright, seems like you really need sleep too Kim Jongin.”
* * *
Triptych
01.25 AM KST
VIP Lounge
”Hi Guys~”
”Hmm…” Chanyeol mengulurkan lengannya dan memeriksa arlojinya sementara Jongin sudah duduk dan mengambil Heineken yang belum dibuka di atas meja. ”Where have you been? You never came this late before.”
Jongin terkekeh, ”Aku tidur seharian.”
Sehun menggelengkan kepalanya tidak percaya, ”You ditched Helena just for sleep? It’s new…”
Jongin mengangkat bahu. ”I’m not really in the mood of getting laid.” Selesai ia bicara, seisi ruangan menatapnya tidak percaya.
”Are you okay, Kim Jongin? Did your last date bit your dick too hard until it’s swollen?” tanya Jongdae nyaris tak percaya, dan Jongin melempar pandangan tajam pada Jongdae. ”I mean, you getting tired of sex? It’s… I don’t know.”
Jaehee mengangguk, ”Kurasa aku harus minta maaf pada Profesor Kwon karena selalu membuat masalah dikelas,” ia mendesah, ”In case besok kiamat.”
”I love you Jinmi, you know it right?” mendadak Baekhyun pura-pura berubah sendu kepada Jinmi, ”Waktu kita tak akan lama lagi, Sayang.”
”Need to find Hana, we still have a date…” gumam Jongdae.
Mendengar nama Hana otomatis mata Jongin berkilat, entah kenapa lagi-lagi ia harus mengerahkan seluruh daya upaya self restrain-nya agak tidak memarahi Jongdae pada saat itu di tempat itu juga.
”Where is she by the way?” tanya Jongin pelan, berusaha untuk tidak memandang siapa pun.
Jaehee menggelengkan kepalanya memandang ponselnya, ”She didn’t reply my chat sejak pukul delapan. Dia bilang dia mau datang… tapi entahlah, dia sedang malas berdandan.” Ia menghela napas dan memandang teman-temannya, ”Seems like something happened with her. Dia tidak pernah seperti ii sebelumnya bukan?”
”Kenapa? Ada apa dengannya?” tanya Baekhyun heran.
”I don’t know… she’s odd.”
Jongin menenggak Heineken-nya, ”Mungkin dia hanya ingin istirahat. Kalian tidak perlu merasa aneh kalau dia ingin istirahat bukan?”
Lagi-lagi semua melirik Jongin heran.
”Well just let her then…” Jinmi mengangkat bahu, ”Honey, you want come with me? I’m getting bored…” dia melempar pandangan seduktif pada Jongdae yang langsung menggeram macam singa buas menatap mangsa.
Jaehee berdecak geli melihat modus Jinmi pada Jongdae.
”So are you alone tonight, Ma Queen?” Baekhyun berusaha merangkulkan lengannya pada bahu Jaehee dan Jaehee menyeringai, ”No!” kemudian menghempaskan tangannya, ”Someone already make ‘appointment’ with me, maybe next time.” Jaehee berdiri dan berlenggang dengan seksi keluar dari VIP lounge.
Jinmi dan Jongdae juga menghilang.
”You wanna go dance?” tawar Baekhyun pada Jongin setelah hanya mereka berdua saja yang berada di dalam ruangan pribadi tersebut, ia mengulurkan lehernya untuk melihat dari balik tabir apa yang ada di lantai dansa. ”Seems like we got new girls from Europe in here.”
Jongin menggeleng, ”Nah, not in the mood.”
”Seriously.” Baekhyun berdiri dan bergidik, ”Aku akan menikmati semua ini sampai puas jika esok hari memang kiamat, Kim Jongin.”
* * *
Hana sudah mengenakan baju kaus belel, celana piyama dan sudah memeluk gulingnya di atas ranjang King Size–nya. Dia benar-benar menghabiskan seharian ini dengan memanjakan dirinya di rumah dan sedikit tidur siang. Berkat Jongin, ia bertekad untuk benar-benar menghilangkan kantung matanya!
Namun entah kenapa, matanya tidak bisa terpejam. Mungkin karena faktor ia tadi sudah tidur siang.
Ia membatin apa sebaiknya sekarang ia pergi saja ke Triptych dan bersenang-senang bersama teman-temannya. Namun entah kenapa pendapat Jongin mengenai kantung matanya tadi siang begitu membuatnya down. Harusnya ia tidak heran memang. Jongin selalu menyukai gadis seperti Jaehee dan Jinmi, yang selalu menggunakan heavy make up, yang mengeluarkan aura sensual yang tak bisa terbantahkan.
Tapi kenapa dia jadi memikirkan pendapat Jongin, sih? Memukuli boneka beruangnya yang sudah lusuh, karena beruang tersebut kenang-kenangan milik Hana satu-satunya dari sang ibu, Hana merenung. Ia memikirkan mengapa hidupnya jadi seolah berubah seratus delapan puluh derajat dalam satu malam.
Ia jadi melamun.
Ia jadi menyendiri.
Dan ia jadi memikirkan Jongin.
”He’s a player… he might be playing games with some girls, or with Jaehee and Jinmi.” Gumam Hana sambil menatapi langit-langit kamarnya menerawang. Dan Hana jadi ingat saat pertamakalinya ia dan Jongin berhubungan seks.
Couple of months ago
Triptych
03.25 AM KST
VIP Lounge
”Whoa, I wouldn’t do that if I were you.”
”Humph… Jongin,” Hana merangkak keluar dari bawah meja, membiarkan saja Jongin terang-terangan menatap belahan dada dan paha putihnya yang mulus, karena hell yeah, memangnya dia sengaja.
Jongin mengernyit, ”What are you doing there?”
Berdiri dan mengacungkan sebuah lipstik dengan kemasan emas-nya, ”My YSL fell. And stop that smile!” omelnya saat melihat Jongin masih sedikit menyeringai karena gaunnya sudah tidak dalam posisi yang benar lagi.
Jongin mengibaskan tangannya, ”I thought you’re asking me to ‘play’ hide and seek maybe?”
”Hide and seek?” kekeh Hana sambil meraih gelas cognac-nya di atas meja dan menenggaknya, matanya tidak lepas dari pria di hadapannya ini. Hana tahu tatapan mata ‘itu’ ia sudah terbiasa melihat Jongin melakukannya.
Dia tahu siapa Kim Jongin, dan apa yang pria itu lakukan.
“Yes,” jawab Jongin sok cuek, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana jinsnya, tatapannya tak luput dari gerakan nakal apalagi kerlingan maha dahsyat yang dihasilkan oleh wing liner Hana. ”I want to play hide and seek.”
Hana meletakkan gelasnya, ”Where?” bisiknya.
”Here.”
Mengangkat alisnya, menantang. Hana tahu apa yang terjadi selanjutnya karena Kim Jongin yang ia tahu tidak pernah gagal mendapatkan apa yang ia inginkan. Dan begitu tangan kokoh Jongin menarik pinggangnya, serta mendaratkan kecupan pada bibirnya, Hana akhirnya tahu mengapa Jongin tidak pernah gagal dalam menjerat wanita mana pun.
He’s damn skillful, his lips is sinful, dan made her lower stomach feel painfull.
Hana dan Jongin memang berteman. Keluarga mereka saling mengenal, ayah mereka adalah relasi bisnis dan tentu saja mereka kerap bertemu di beberapa acara gala, selain disekolah. Namun mereka baru benar-benar berteman cukup dekat, ketika mereka masuk bangku universitas. Bersama Sehun, Chanyeol, Baekhyun, Jongdae, Jaehee, dan Jinmi, mereka memulai kebiasaan mereka untuk hang out di bar ternama yang letaknya di kawasan elit, dan tidak sembarangan orang bisa masuk kesana.
Triptych.
Dimulai dari kebiasaan mereka sering menghabiskan malam dengan berpesta dan minum, hubungan no strings attached atau one night stand pada awalnya dimulai. Akal sehat, dan kesadaran yang fly kerap membuat mereka lupa diri, dan tentu saja tidak mengherankan saat mereka menemukan satu sama lain terbangun tanpa busana di sisi mereka, dengan berbagai macam bekas kecupan di sekujur tubuh.
Tapi Jongin belum pernah melakukannya dengan Hana. Keduanya belum pernah menemukan satu sama lain terbaring polos disisi mereka, dan tidak pernah merencanakannya juga. Hingga malam ini, saat Jongin sedang bosan dengan gadis-gadis yang selalu menawarkan diri untuk merasakan kehangatan ranjangnya, dan Hana yang sudah ’selesai’ dengan Chanyeol bertemu.
Malam itu, pertamakalinya mereka melakukan one night stand. Hana hanya mengingat bahwa Jongin pantas dijuluki The King oleh teman-temannya, karena kemampuannya dalam bercinta yang menurut Hana diatas rata-rata teman tidurnya selama ini. Tapi Hana tidak pernah memikirkan pengalaman-pengalaman percintaannya hingga melamunkannya dan berangan-angan untuk mengulang kembali.
Yes, he’s just a fuck buddy. The good one…
Until…
Now
”Damn!” Hana bangkit dan mengacak rambut panjangnya, ”Kenapa tiba-tiba jadi teringat waktu itu? Shit! Aku tidak boleh terlalu banyak melamun,” ia menepuk-nepuk pipinya sendiri dan bangkit dari ranjangnya, mendekati meja ukiran yang terletak di dekat salah satu jendela kamarnya yang besar. Diraihnya teko kristal berisi air mineral dan dituangkannya air tersebut pada gelasnya, yang langsung ia habiskan mengingat betapa keringnya kerongkongannya jika mengingat malam pertama ia tidur dengan Jongin.
”Kenapa aku harus ingat malam itu sekarang? Damn, damn, damn…” Hana beranjak ke sofa ukirnya, meraih remote dan menghidupkan siaran televisi, yang hanya diisi oleh siaran ulang drama-drama atau serial.
Drrrtt. Drrrttt.
Tanpa melihat siapa si penelepon, Hana langsung menempelkan benda tipis tersebut pada telinga kirinya, “Yes?”
”Hana? Still awake?”
Damn! Hana mengerjapkan matanya dan menjauhkan ponselnya dari telinga untuk memastikan siapa yang tengah menghubunginya. Entah karena otaknya yang bekerja lambat atau bagaimana, fakta bahwa Kim Jongin menghubunginya di pagi buta ini membuat bulu kuduknya meremang.
”Ah, iya… I… I can’t sleep,” Sahut Hana mencoba agar nada suaranya sedatar mungkin, dan sejujurnya hati kecilnya yang bawel itu hendak menambahkan kalimat, ”Because I suddenly reminded about our first time…”
Tapi, Jongin takkan senang mendengarnya bukan.
”Are you okay?”
Entah sudah berapa kali Jongin menanyakan keadaannya sejak kemarin malam. Dan ini tidak baik bagi kesehatan Hana. Ia mulai membanding-bandingkan, apakah jika Jaehee, atau Jinmi yang tengah dalam keadaan tidak enak badan atau sakit Jongin akan melakukan hal yang sama?
Okay, focus Lee Hana.
”I’m fine…” suaranya dibuat seceria mungkin. ”Just too much sleep at noon, why? Are you miss me?”
Fool, yeah baby, you’re such a fool.
Jongin terkekeh. Dan Hana mulai ngeri dengan fakta bahwa tubuhnya sudah terasa menghangat saat mendengar tawa Jongin yang nun jauh di Triptych sana.
”Yeah, it’s not usual not seeing you here with Jinmi and Jaehee. Kau yakin tak apa-apa terbangun pukul segini?”
”Of course.” Hana terkekeh, ”I’m watching television right now, in case you’re worried.”
”Should I go there?”
Hana terdiam, nyaris kehilanga kewibawaannya karena mendadak hatinya dan jantungnya tidak mau diajak kerjasama. ”Here? You want to come here, to my house?”
”Yeah, it’s a bit boring here.” Hana yakin Jongin tengah mengangkat bahunya. ”So… can I come to your house?”
Hana menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab, ”You might need some stairs, because people already in their dreamland now.” Tantangnya.
”Ahahaha, you’ll see what I can do.”
Dan jantung Hana berdebar-debar semakin kencang menit demi menit setelah Jongin memutuskan sambungan telepon. Mula-mula ia menyalakan lilin aromaterapi, namun setelah ia pikir-pikir, nanti jangan-jangan Jongin malah mengira bahwa ia hendak merayu pria itu. Maka Hana buru-buru meniup kembali lilin beraroma freesia tersebut dan memasukkannya kembali ke dalam kotak.
Hana berlari dan tersandung karpet kamarnya sendiri saat hendak masuk ke dalam walk in closet-nya untuk mencari pakaian tidur yang sekiranya lebih pantas, namun yang ia temukan hanyalah gaun malam seksi yang jelas akan membuat Jongin mempertanyakan tujuannya dalam menggunakan gaun itu.
Untuk ukuran seseorang yang hampir diperkosa. Bukan ide yang baik, jadilah Hana hanya mondar-mandir sampai ia mendengar sesuatu dilempar pada kaca jendelanya.
”Jongin?” pekiknya kaget dan buru-buru membuka jendela kaca yang ukurannya jauh lebih besar dari pintu balkon kamarnya sendiri. Menunduk ke bawah, ia terbelalak melihat Jongin tersenyum miring dan melambai, dalam balutan kemeja hitam. ”Are you insane? I thought you’re just kidding.” Desisnya.
Jongin balik terkekeh, ”It’s really boring.”
”How could you come in?”
Jongin mengangkat bahu, ”Step aside, Hana-ya.”
”Ne?!”
”Step aside.”
”Why?”
Jongin terkekeh dan ia mulai memanjat sulur-sulur tanaman hias yang mengular di dinding rumah Hana, dengan mudah, karena banyaknya pijakan yang ada dari sulur-sulur tersebut, Jongin berhasil sampai di dalam kamar Hana melalui jendela yang terbuka, dan mendapati gadis itu benar-benar ternganga dengan aksinya.
”H…how could…”
Jongin meregangkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri sebelum mulai memperhatikan seisi kamar Hana yang hanya diterangi oleh lampu kecil di samping televisi, ”I’m just very romantic person, Hana-ya.”
”You duplicated Leonardo DiCaprio, please…”
”So you know,” kekeh Jongin sambil duduk di sofa dan mengganti-ganti channel, ”Astaga aku tidak pernah menonton televisi selarut ini. Apa yang kau tonton, Hana-ya?”
Dengan tekad kuat, dan kontrol hebat pada jantung dan otaknya Hana mengikuti Jongin duduk di sofa, meski sedikit lebih jauh, dan menjawab, ”Dunno… just turn it on couple of minutes ago. Can’t sleep anymore…”
”You sure you okay?” mendadak Jongin mengalihkan fokusnya pada Hana lagi, dan Hana nyaris menghela napas dan melambaikan tangan bahwa ia menyerah! Ia sudah tidak sanggup diperlakukan semanis ini oleh Jongin.
Diperlakukan manis dalam semalam saja sudah membuat seluruh organ tubuhnya kacau dan tidak bekerja sebagaimana harusnya. Bagaimana jika malam ini Jongin melakukannya lagi? Apa yang akan Hana lakukan besok?
”Fine.”
”Kenapa harus bepikir sebelum menjawab?” alis lebat Jongin menyatu karena keheranan dan sedikit khawatir.
”Just… you know, I’m just wake up.”
Jongin mengangguk, menerima alasan Hana. ”Have you eaten?”
”Not yet…”
”Should we order something? I’m hungry.” Kekeh Jongin malu-malu meraba perutnya dan menggosoknya, ”Heineken selalu membuatku lapar.”
Hana menggelengkan kepalanya, ”Kau kesini dengan alkohol di dalam sistemmu? That’s not very nice, Kim Jongin.” Ia mengerutkan alisnya sembari meraih ponselnya untuk mencari nomor restoran siap saji yang buka dua puluh empat jam.
Jongin tersenyum tipis, ”I always drive with alcohol on my system, in case you’re forgotten.”
Hana mengerjap-ngerjapkan matanya dan menggeleng, ”Don’t do that anymore, you could killed someone, or yourself.”
Jongin terkekeh, geli sendiri. Dia berpikir apa selama ini Hana hidup dibawah gua atau bagaimana? Dia selalu mengemudikan Maseratinya dalam keadaan ada alkohol di dalam tubuhnya. Tidak baik memang, tapi dia selalu sadar dan tidak pernah mabuk saat mengemudi, tidak pula tipsy atau apa.
Herannya, kenapa Hana baru peduli sekarang?
”What do you want to eat?” tanya Hana tanpa sadar membuat Jongin kembali terjaga dari lamunanya, ia menoleh dan melihat Hana tengah serius menatapi layar ponselnya. ”No fancy food, only fast one.”
Jongin tersenyum penuh arti, ”I think you know what I want.”
”Cheeseburger? Oh my God,” Hana terkekeh sambil menekan beberapa kombinasi angka dan tak lama kemudian ia sudah menghubungi restoran siap saji tersebut dan meminta mereka mengantarkan sejumlah makanan ke rumahnya.
Jongin mengernyitkan dahinya saat Hana selesai menelepon, ”Bukankah tadi kau bilang kalau semua orang rumah sudah tidur? Bagaimana jika dia mengantar nanti?”
Hana berdiri dan mengelus kepala Jongin seperti mengelus keponakannya sendiri yang berusia tiga tahun, berbisik, ”Terkadang The King bisa sangat polos juga ya… aku hanya bergurau! Mana mungkin semua orang tidur di rumah ini, setidaknya penjaga keamanan masih bangun…” dan Hana tergelak melihat ekspresi Jongin yang terperangah.
Well, Jongin sudah mengira bahwa aksi heroiknya memanjat tadi akan mengesankan di mata Hana, karena ya istilahnya dia masuk diam-diam ke dalam mansion keluarga Hana. Namun apa yang dia dengar benar-benar membuatnya kaget.
Lee Hana hanya mengganggunya? Shit. Kenapa juga dia bisa sepolos itu? Benar juga, mana mungkin di rumah sebesar ini semua tidur tanpa penjagaan? Bisa-bisa maling masuk dan mencuri tanaman yang harganya mahal!
”Okay, are you done laughing at me, Lee Hana?” tanya Jongin gemas dan menarik pipi Hana tanpa kasihan, yang ditarik hanya bisa mengaduh namun tetap tidak bisa menghentikan tawanya karena Demi Tuhan, Jongin sangat sangat sangat lucu saat menyadari bahwa dirinya dikerjai. Tak ada seringai nakal, tak ada tatapan penuh percaya diri, yang ada hanya wajah polos dan perlakuan bak anak kecil—yaitu mencubit pipi Hana yang tertawa geli.
The King please~
”Alright alright, I won’t do that anymore…” Hana meringis dan mencoba menjauhkan tangan Jongin yang masih saja berusaha untuk membuat pipinya nampak merah tanpa NARS Orgasm. ”Anyway, how’s our friends doing?”
”Something usual…” Jongin membaringkan kepalanya pada kedua tangannya yang ia silangkan di kepala sofa, ”I don’t know why it’s so boring anyway. Baekhyun said that there’s group of Europe girls there…”
Hana mengalihkan tatapannya dari Jongin untuk memutar kedua bola matanya dengan jengkel, namun tetap jauh dari jangkauan pandang Jongin. Of course, Jongin and girls… what’s new? Fakta bahwa ia kini mempermasalahkan soal Jongin dan para gadis benar-benar membuatnya mulai lelah.
Dan Jongin yang bersandar dengan santai di sampingnya sama seklai tidak membantunya untuk membersihkan pikirannya. Melalui ekor matanya, ia justru malah memperhatikan profil Jongin, seolah-olah ia baru mengenal Jongin kemarin malam. Mulai dari fisiknya, yakni tubuh proporsionalnya yang nampak sangat sempurna dengan balutan pakaian yang ia kenakan, sampai rambutnya yang terlihat tertata berantakan namun tetap menawan.
Seriously Hana, where have you been?
”Are you asleep?” Jongin bertanya tiba-tiba membuat Hana yang melamun jadi tersentak dan buru-buru menggeleng. ”Maybe you should sleep… don’t bother on me, I won’t disturb your sleep.”
”Nah, too much sleep for me.”
Jongin terkekeh.
Sekitar dua puluh menit kemudian, saat keduanya tengah asyik membicarakan rave party yang akan dilaksanakan di akhir tahun ajaran, pintu kamar Hana diketuk dengan pelan dan suara babysitter-nya yang lembut mengabarkan bahwa pesanan cheeseburger-nya sudah tiba. Dalam waktu singkat, keduanya sudah duduk bersila di karpet bulu imitasi Hana, dengan chicken wing, cheeseburger, fries, dan wine.
Koleksi wine sendiri diambil Hana dari dalam lemari es kecilnya di kamar. Kombinasi yang sedikit unik, wine dan cheeseburger, tapi melihat bagaimana Jongin begitu menikmatinya, Hana jadi tersenyum senang juga.
Drrrtttt.
Hana menoleh ke kanan dan ke kiri sebelum mendapati ponselnya yang menyala di atas meja kopi di samping Jongin.
”Jongin, ponselku…” gumam Hana sambil menggigit cheeseburger-nya.
Jongin meraih ponsel tersebut dan tanpa sengaja melihat pesan yang masuk ke dalam layar ponsel Hana. ”Jongdae?” tanyanya sebelum menyerahkan ponsel Hana pada pemiliknya sendiri, ”He want to come?”
Hana terkekeh kecil, dan memeriksa isi pesan-pesan lainnya sebelum meletakkannya di karpet tepat di samping lututnya dan kembali mengunyah cheeseburger-nya dan menenggak wine-nya. Ternyata ide makan di pagi hari seperti ini lumayan juga. Hana tidak pernah tahu kalau cheeseburger dan wine akan begini nikmat.
”So… you… you’re gonna meet Jongdae tomorrow?” tanya Jongin berusaha untuk terlihat tidak acuh, dan Hana memang tidak memperhatikan bahwa sesekali Jongin mencuri pandang ke arah dirinya.
Hana mengangguk sambil menambahkan thousand islands pada cheeseburger-nya, ”Of course… we shared same class.”
”Well, bukan bertemu itu maksudku…” Jongin mengacak rambutnya.
”Then?” Hana menoleh dengan heran sampai ia akhirnya ingat isi pesan Jongdae, dan entah kenapa wajahnya bersemu merah karenanya.
Sayangnya, rona kemerahan di wajah Hana tidak luput dari pandangan Jongin yang mengira Hana bersemu-semu karena Jongdae mengajaknya melakukan ’sesuatu’ yang Jongin sudah tahu pasti itu apa.
”So… you’re totally fine now.” Jongin menandaskan kalimatnya, tanpa berusaha terdengar getir atau apa. Seingatnya Noona-nya sendiri malah baru—”I’m not.” Sahut Hana meletakkan cheeseburger-nya di lantai.
Ia menuang Bourbon-nya lagi ke dalam gelas wine-nya hingga nyaris penuh dan menengggaknya seperti menenggak soju. Sommelier mana pun pasti akan meringis dan memprotes cara Hana memperlakukan Bourbon jika melihatnya.
”Honestly… aku tidak berani keluar pun karena alasan itu, Jongin-ah.” Hana menatap burgernya tanpa minat sekarang. Ia terkekeh getir, ”Last time I checked, after… that damn night…” ia bergidik sendiri, ”I… I can’t… seems to stop… I…”
Jongin juga meletakkan burgernya dan menggeser tubuhnya pelan mendekati Hana yang gemetar. Sedikit merasa bersalah karena awalnya sudah mengira Hana ingin bersenang-senang lagi dengan tawaran Jongdae.
”I know,” Jongin mengangguk dan kembali menepuk bahu Hana dengan canggung. ”No need to explains further if it’s disturbed you. I knew from my Noona experiences… so you did have the same after effect like hers.” Lanjutnya lirih, ”No need to be ashamed, Hana.”
Hana menggeleng dan menyembunyikan wajahnya setelah ia memeluk lututnya dengan gemetar. Hana tidak pernah merasa benar-benar ’telanjang’ hingga seperti ini, bahkan sebelum ia menjelaskan after effect pemerkosaannya, Jongin sudah tahu dan Jongin mengerti. Dia benar-benar seperti buku terbuka sekarang.
”Don’t you find me disgusting?” isak Hana tak mau menatap Jongin.
Membelalak, Jongin mencengkram bahu Hana sedikit kencang sebelum menjawab dengan mantap, ”Of course it’s not!”
”But it’s here… I’m afraid if I go out… I will… I will… but if I stay here, it’s… hurt.”
Jongin meraih Hana ke dalam pelukannya, persis seperti apa yang ia lakukan pada Noona-nya dulu. Hana gemetaran membayangkan apa yang terjadi jika ia membiarkan dirinya keluar, dan membiarkan dirinya dirayu.
Sudah lebih dari tiga tahun saat pertamakali kejadian hina itu terjadi, dan Hana masih menyimpan malu yang sangat besar jika mengingatnya. Sejak saat itu rasanya ia tidak bisa benar-benar sembuh, ia hanya bisa ’menahannya’ dan membatasinya.
Sangat tidak membantu jika semua laki-laki merayunya. Dia tidak mau kejadian seperti dulu… saat ia membiarkan dirinya—Hana menggelengkan kepalanya kuat-kuat dan mencengkram kedua sisi wajahnya kuat untuk mengenyahkan bayang-bayang kelam di masa sekolahnya, setelah ia diperkosa.
Diperkosa memang sangat memalukan, tapi kondisi mental dan trauma yang datang setelah ia diperkosa membuatnya menjadi lebih memalukan.
”You want me to help you?”
”What?!” Hana menoleh, wajahnya masih berurai air mata namun kedua sorot matanya menunjukkan bahwa ia benar-benar terkejut dengan apa yang Jongin tawarkan. ”Are you fucking kidding me Jongin? This is not a joke!”
Jongin menggeleng kuat, tatapannya tak pernah lepas dari kedua iris mata Hana yang kini digenangi oleh kristal-kristal bening. ”I’m not! Do you want me to help you… just do it with me instead… you have me on your back, I’ll protect you. Until it heals…”
”How? Don’t you disgust by me?” isak Hana lagi.
”No! How could you said that? You’re not disgusting Hana, don’t you dare to say it again!” ujar Jongin keras.
”But…”
Belum sempat Hana menjawab Jongin sudah mengunci bibirnya dengan bibir penuhnya yang sejak tadi terus membuat Hana gelisah. Sebenarnya Hana tidak benar-benar memikirkan tentang ’after effect’ sialan tersebut jika saja Jongin tidak menanyakan apakah dia sudah ingin tidur dengan Jongdae lagi. Dan pertanyaan itu seolah membangunkan ingatan Hana yang tidak nyaman dengan after effect setelah ia diperkosa beberapa tahun silam.
Tidak butuh otak jenius untuk memprediksikan dampak psikologis yang akan dialami oleh korban pelecehan seksual. Korbannya pasti tanpa sadar akan mengulang-ulang kembali rekaman akan apa yang ia alami, dan tanpa sadar melakukannya dengan orang lain. Hana yang masih belia dulu membiarkan dirinya terbawa oleh after effect tersebut hingga ia diberi nama ’Piala Bergilir’ oleh banyak pria di sekolahnya.
And it hurts to think about it… it’s not something that people should proud of.
Maka menginjak bangku kuliah, begitu Hana mengenal dunia malam, ia mulai bisa mengendalikan after effect tersebut. Dengan letih berpesta, ia tidak akan sempat memikirkan seks, seks, dan seks.
But she still got her needs.
”Let me help you Hana…” bisik Jongin sambil merebahkan tubuh Hana yang gemetar dan memanas di bawah kendali tubuhnya. Matanya menatap lurus ke dalam dua mata cokelat Hana dan disitu Hana tahu, dia memang butuh Jongin untuk alasan ini. ”If you had that urge… no need to find anyone, just call me!”
Hana meneguk ludahnya dalam-dalam, bagian bawah perutnya sudah mulai bergerak tidak nyaman. Tapi ia tahu ia harus melakukan ini untuk dirinya sendiri, pikirnya egois. ”Just find you?”
“Yes! I promise I’ll be there to help you…”
”Can you do a favor to me?”
”Anything.” Karena Jongin pun sudah tidak bisa mengendalikan bagian bawah tubuhnya. Tentu saja itu yang terjadi jika tubuhnya kini menindih Hana dengan posesif. Hell yeah, Hana has a great figure and that kiss before, left him unsatisfied.
Hana meneguk ludahnya lagi, ”Would you do that… only to me? And let me… feel that I’m… I’m not… a slut?”
”But you’re not! Never!”
”But still…”
Air mata di wajah Hana benar-benar memberitahu Jongin betapa tertekannya Hana (secara mental tentunya, bukan secara fisik seperti yang saat ini ia lakukan). ”I’ll do it… only with you, until you don’t need me anymore.”
And they seal the deal.
-TBC-
And they seal the deal!
Uhh, sebenernya nulis part terakhir soal after effect itu agak-agak ‘mengganggu’ aku jadi aku harap dedek-dedek yang di bawah umur bisa nanya sama orangtuanya ya supaya gak salah arah >< Karena after effect korban pelecehan seksual itu sangat-sangat berbahaya huhuhu dan gak semua orang bisa lepas dari after effect itu. Itulah kenapa rate-nya aku naikkin.
Mudah-mudahan satu part lagi aku selesai menceritakan gimana awal mula Jongin-Hana bisa jadian di Campus Scandal. Terima kasih banyak bagi yang masih inget sama aku dan masih mau baca cerita aku. Sampai jumpa di next chapter.
Oh iya ini masih un-beta ^^
neez
Filed under: Adult, AU, Campus Life, romance Tagged: exo, kai, OC