
Cast: Kris Wu, Kim Tae Ri (OC) || Support Cast: Huang Xiao Ming, Henry Lau, EXO Member || Genre: Romance, Sad, Action, Crime || Rate: PG18
Disclaimer: All the cast are from God, except the OC my imagination and the story line too. Sorry for typo. No copy, I hate plagiat.
Thanks To Arin Yessy @ Indo Fanfictions Arts
Irnacho, © 2015
(maaf untuk segala typo yang bertebaran. aku nggak sempet untuk ngecek lagi. happy reading!)
♣ ♣ ♣
Previous: YAKUZA || 1 2 3 4 5
–
Sudah kurang dari tiga jam Taeri membiarkan wajahnya di poles sana sini oleh beberapa wanita yang tidak dia kenal. Taeri tidak tahu apa yang ingin mereka perbuat pada wajah dan rambutnya. Pagi-pagi sekali Bibi Liu membangunkannya dan menyuruhnya segera mandi, lalu tidak berapa setelah dia menyelesaikan ritual mandinya Angel masuk ke kamarnya bersama beberapa wanita di belakangnya dengan kotak-kotak make up di tangan. Angel sendiri membawa plastic panjang yang Taeri yakini berisi baju. Tapi dia tidak tahu jenis baju yang seperti apa karena bungkus plastic itu berwarna hitam jadi Taeri tidak bisa melihatnya. Tanpa memberikan penjelasan apapun padanya, Angel menyuruh wanita-wanita itu untuk meriasnya. Saat dia mencoba bertanya, Angel hanya menjawab “Kita memiliki pesta siang nanti.” Hanya itu. Angel tidak menjelaskan pesta apa atau pesta siapa. Karena setelahnya dia berlalu keluar kamarnya dengan alasan ingin bersiap-siap juga. Dan baru akan kembali jika dirinya sudah selesai.
Taeri masih bingung ketika wanita-wanita itu sibuk dengan rambut dan wajahnya. Tidak ada satu pun dari mereka yang bisa memberikan jawaban memuaskan untuknya. Saat di tanya, mereka hanya menjawab tidak tahu dan hanya menjalankan perintah. Taeri jelas bingung. Memang pesta apa yang mengharuskan dirinya di dandani oleh lebih dari dua penata rias?
Angel kembali ke kamarnya dan dirinya sudah cantik dengan dress biru laut di atas lutut. Dengan make up yang tidak terlalu tebal tapi sudah bisa membuat wajahnya mempesona. Taeri selalu berdecak iri tiap kali melihat kecantikan Angel. Gege-nya Xiaoming pastilah sangat beruntung memiliki tunangan secantik itu.
“Sudah selesai?” Tanya Angel pada wanita yang mendandani Taeri. Salah satu dari wanita itu mengangguk setelah menyematkan satu mahkota kecil di sela-sela rambutnya.
“Sudah, Nona. Tinggal memakai gaun.”
“Bagus. Sesuai harapan, kalian memang bisa di andalkan.” Angel tersenyum puas melihat riasan Taeri. Sempurna. Pikirnya. “Kalian boleh pergi. Sisanya biar aku.” Mereka pun mengangguk dan membungkuk untuk pamit. Sebelum benar-benar pergi mereka mengucapkan selamat pada Taeri yang tentu membuat gadis itu kebingungan. Selamat untuk apa? Ini bukan hari ulang tahunnya. Tapi Taeri tidak memperpanjangnya. Masa bodoh. Dia beralih menatap Angel dari cermin di depannya.
“Jiejie, sebenarnya kita mau datang ke pesta siapa? Dan ini…” Taeri memperhatikan riasannya kemudian kembali menatap Angel. “Apa tidak terlihat berlebihan?”
“Tsk. Sudah kau diam saja, nanti juga akan tahu. Sekarang berdirilah.”
Dengan kerutan di keningnya Taeri berdiri dan menghadap Angel. Ini benar-benar aneh. Pikirnya.
Angel mengeluarkan sesuatu dari tas tangannya. Dan kerutan kening Taeri semakin terlihat jelas ketika melihat apa yang di pegang wanita itu. Sebuah penutup mata. Semakin membuatnya kebingungan dan menerka-nerka sesuatu pasti tengah di rencakan untuknya ketika Angel menghampirinya untuk mengenakan penutup mata itu padanya.
“Jangan protes. Pakai saja.” Katanya.
“Jiejie, kau membuat ku takut. Kau tidak berniat menculik ku kan?”
Angel tentu saja tertawa dengan pertanyaan Taeri. “Mana ada penculik yang mendandani tawanannya menjadi cantik seperti ini sebelum di culik? Kau ada-ada saja.”
“Memang tidak ada, sih. Habis kau membuat ku penasaran. Sebenarnya kita ini mau menghadiri pesta apa?”
Angel tidak menjawab, dia berjalan ke arah tempat tidur dan mengambil bungkusan plastic yang berisi baju yang tadi di bawanya. “Kita pakai bajunya dulu.” Angel melepaskan bathrobe dari tubuh Taeri dan membantunya mengenakan baju yang ternyata adalah sebuah gaun. Entah gaun yang seperti apa. Taeri tidak bisa melihatnya. Dia hanya bisa merasakan gaun itu panjang dan cukup berat.
Mungkin sekitar pukul sebelas, entahlah. Taeri tidak bisa melihat karena penutup mata yang di pasangkan Angel. Ketika wanita itu menuntunnya keluar kamar setelah memasangkan yang entah itu apa di rambutnya. Taeri bisa mendengar suara Bibi Liu dan Xiaoming akan kekagumannya ketika mereka sudah melewati pintu.
“Bibi, sebenarnya kita mau kemana? Seingat ku hari ulang tahun ku sudah lewat, jadi untuk apa ini semua?”
“Kau tenang saja, kita tidak akan berbuat yang macam-macam.” Hanya itu jawaban Bibi Liu. Membuat Taeri harus mendesah frustasi. Ada apa dengan orang-orang ini sebenarnya?
“Ayo, acara sudah mau di mulai. Kita bisa terlambat nanti.” Suara Bibi Liu terdengar lagi. Di susul dirinya yang mulai di tuntun oleh dua orang wanita yang hari ini sangat menyebalkan untuknya ke dalam mobil.
“Silahkan Tuan putri.” Ucap Xiaoming.
Taeri berdecih. “Diam sajalah kau, Ge.” Dan Xiaoming hanya terkekeh membuat Taeri semakin kesal.
“Jangan menekuk wajahmu seperti itu. Dan hilangkan umpatan itu dari mulutmu. Kau akan merusak kecantikan riasannya.”
“Jadi yang cantik riasannya? Bukan aku?”
“Memang aku pernah mengatakan dirimu cantik?”
“Jiejie, tunangan mu menyebalkan sekali.” Rengek Taeri.
“Ck. Xiaoming, jangan mengganggunya.” Hardik Angel. “Lebih baik kau segera masuk. Kita sudah terlambat.”
“Ya Tuhan, kalian selalu saja bertengkar seperti anak kecil.” Bibi Liu menggelengkan kepalanya tak habis pikir.
“Gege yang duluan, Bibi.”
“Dasar anak kecil. Bisanya mengadu.”
“Xiaoming.” Teguran Bibi Liu dan Angel terdengar bersamaan. Dan pemilik nama itu hanya memutar bola matanya malas apa lagi saat melihat Taeri tersenyum puas. Benar-benar menyebalkan.
“Ya ya ya, memang selalu aku yang salah.”
~o0o~
Cuaca Hongkong hari itu cukup cerah. Cukup sejuk di pandang mata lewat kaca jendela di dalam mobil. Seorang pria paruh baya tengah terlihat duduk santai di dalam mobil yang akan membawanya pada tempat tujuannya. Tidak mempedulikan ocehan pria lain yang duduk di depan tepatnya di samping pengemudi pada ponsel di telinganya. Terlihat tak acuh namun otaknya mencerna dengan cepat apa yang dia dengar meski dari sebelah pihak. Sesekali senyuman miring tersungging di wajah tuanya kala mendengar sesuatu yang menarik untuknya.
Pembicaraan itu berhenti. Pria yang sejak beberapa menit lalu sibuk dengan ponselnya kini menoleh ke belakang ke arah sang tuan setelah memasukan kembali ponselnya ke saku celana.
“Tuan muda akan melaksanakan pernikahan siang ini dengan wanita dari Sumiyoshi-kai itu, Tuan.” Lapornya.
Sekali lagi senyuman miring dia sunggingkan tanpa menatap balik orang yang mengajaknya bicara. Lalu tawa sumbang keluar dari mulutnya. “Bukankah dia begitu mirip dengan ku? Sangat berani.” Ucapnya di sela tawa. Meski begitu ada kajaman dalam nada suaranya.
“Kami menunggu perintah anda, Ketua. Apa kami perlu mengacaukan acaranya dan membawa Tuan muda pada anda.”
“Oh, Tidak tidak tidak. Bagaimana mungkin kau mengacaukan hari bahagia anak ku, huh?”
“Maafkan saya Ketua.”
“Biarkan mereka. Aku hanya sedikit kecewa kenapa dia tidak mengundangku di hari bahagianya? Apa dia tidak ingin aku menyaksikannya mengucap janji suci di atas altar? Ah, anak itu masih saja nakal.” Ucapnya dengan nada penyesalan yang di buat-buat. Seringai nampak terlihat di wajahnya yang berubah bengis.
Bersenang-senanglah, nak. Sebelum nanti kau menangis memohon ampun padaku. Sudah saatnya kau kembali patuh pada Ayahmu.
~o0o~
Taeri mengerjapkan matanya beberapa kali untuk beradaptasi dengan cahaya setelah beberapa menit yang lalu matanya di tutup. Hal pertama yang gadis itu dapati ketika membuka matanya adalah sebuah pintu besar dengan ukiran-ukiran unik di permukaannya. Awalnya dia mengernyit heran, masih belum menyadari dirinya sedang berada dimana ketika matanya melirik ke samping dan hanya mendapati Xiaoming di sampingnya. Karena sebelum dia membuka matanya Angel dan Bibi Liu ijin untuk pergi ke suatu tempat sebentar. Kemudian mulutnya menganga saat dia menundukan pandangan dan mendapati gaun yang tengah melekat di tubuhnya. Gadis itu belum benar-benar menyadari keadaan yang sedang terjadi padanya ketika Xiaoming mendorong pintu di hadapan mereka. Dan terlihalah pemandangan yang nyaris membuat gadis itu meneteskan air matanya. Matanya terpaku pada sesosok pria dengan tuxedo putih yang tengah berdiri di atas altar menghadap ke arahnya. Memberitahukan kejutan untuknya lewat senyumnya. Di belakangnya berdiri seorang pendeta.
“Ge.” Lirihnya. Jelas, siapa yang mampu bicara jika di hadapkan pada kejutan seperti ini.
Xiaoming hanya tersenyum, lalu menekuk lengannya seraya menoleh pada gadis yang sudah di anggapnya adik ini.
“Tunggu apa lagi? Jangan buat mereka menunggu.” Taeri menatapnya beberapa saat sampai Xiaoming menggendikan dagunya ke arah lengannya yang sudah siap untuk di lingkari oleh Taeri. Lalu berucap. “Kau tidak keberatan kan jika Gege yang menggantikan posisi Ayahmu? Kris sudah menceritakannya pada kami. Selamat untuk kembalinya ingatanmu.”
Taeri tersenyum, tidak tahu harus berkata apa. Matanya sudah berkaca-kaca. Sebisa mungkin untuk tidak menangis dan membuat Angel marah karena sudah menghancurkan make up-nya.
“Terima kasih, Ge.” Hanya itu yang mampu dia keluarkan dari kerongkongannya yang terasa tercekat.
Musik pengiring pengantin mulai terdengar ketika Taeri yang di dampingin Xiaoming berjalan masuk menuju altar. Di depan sana Kris sudah menunggu dengan senyum menawannya. Bisa Taeri lihat tamu undangan yang berdiri di kanan kirinya. Bukan hanya Angel dan Bibi Liu yang sudah berdiri di barisan paling depan yang membuatnya sedikit terkejut. Serta Kane yang berdiri di antara dua pengasuhnya yang juga berada pada barisan depan. Tapi kehadiran dua belas pria yang sangat Taeri kenal. Sudah berapa lama dirinya tidak melihat mereka? Sungguh dia merindukan sahabat-sahabat kekasihnya itu. Mereka berdiri sambil tersenyum ke arahnya. Melambai seolah mengatakan jika mereka di sini untuk menyaksikan kebahagiaannya yang sebentar lagi akan dia dapat dari pria di depan sana.
“Ku percayakan adik ku padamu. Jaga dia dan jangan pernah mencoba untuk menyakitinya.” Xiaoming menyerahkan tangan Taeri pada Kris yang langsung pria itu genggam. Kris mengangguk dan tersenyum.
“Aku tahu.”
Kris menatap Taeri dengan tatapan penuh rasa kagum. Dia hanya tidak bisa percaya, bagaimana bisa ada gadis secantik kekasihnya ini. Ah, calon istrinya lebih tepat. Berlebihankah dirinya? Biarkan saja, bukankah setiap orang yang sedang jatuh cinta memang selalu terlihat menggelikan?
“Calon istri ku cantik sekali.” Bisiknya. Mungkin jika sedang dalam keadaan normal Taeri akan tertawa geli mendengarnya. Ingat, dia tidak pernah suka dengan kata-kata manis macam remaja picisan. Selain menggelikan membuatnya ingin muntah. Dan sejak dulu Kris memang selalu menggodanya dengan cara seperti itu. Pria itu senang sekali melontarkan kata-kata manis hanya demi melihat Taeri mengamuk. Itu mengasikan. Tapi kini yang di lakukan Taeri adalah tersenyum.
“Kau selalu penuh dengan kejutan.”
“Terima kasih. Aku tahu kau mencintaiku.” Taeri hanya mendesis malas mendengar jawaban Kris.
Mereka menghadap pendeta yang sudah siap dengan doa-doa sucinya. Merapalkan janji-janji serta sumpah pernikahan. Suasana tampak hening dan khusyuk. Hanya suara pendeta yang terdengar hingga kata ‘Ya, aku bersedia.’ keluar dari bibir dua mempelai di depan sana. Tepukan tangan pun mengiringi ketika Kris membuka bridal veil Taeri untuk kemudian menciumnya.
Taeri sudah tidak bisa lagi menahan air matanya untuk tidak jatuh. Dadanya terasa begitu sesak di penuhi oleh kebahagiaan yang meluap.
“Benarkah sekarang aku istri mu?” Tanyanya di sela isakannya. Kris tersenyum, kemudian mengangguk. Jari-jarinya bergerak menyeka air mata Taeri.
“Tentu saja. Tuhan dan seluruh orang-orang yang ada di sini saksinya, sayang.” Jawab Kris.
Taeri menghambur ke pelukan Kris. Melingkarkan tangannya di pinggang Kris dengan erat, dia kembali menangis di sana. Jika boleh jujur, sebenarnya Kris juga ingin menangis sekarang. Rasanya seperti mimpi saat pendeta mengatakan mereka sudah sah menjadi suami istri. Mengingat perjalanan yang begitu panjang dan menyakitkan yang sudah mereka lewati, Kris begitu merasakan rasa terima kasih yang besar pada Tuhan membiarkan dirinya akhirnya membawa gadis dalam pelukannya ini ke depan altar. Meski pun tanpa restu orang tua, tapi semoga Tuhan dapat merestui mereka. Namun mati-matian Kris menahan tangisannya. Tidak lucu jika mereka berdua menangis, kan? Sedangkan acara saja belum selesai. Masih banyak tamu di sini. Yah meski pun tamu yang hadir hanyalah orang-orang terdekat mereka. Tetap saja itu akan memalukan untuknya. Teman-temannya bisa menertawainya nanti.
Kris melepaskan pelukan mereka, lalu membersihkan air mata Taeri dari wajahnya. “Sudah jangan menangis lagi. Simpan air matamu. Aku masih memiliki kejutan yang lain.” Taeri menaikan salah satu alisnya, apa kiranya kejutan yang Kris katakan itu? Tapi pria itu tidak memberikan penjelasan apapun. Hanya tersenyum. Kemudian dari arah belakang tubuhnya, Kane datang dengan membawa kotak kecil yang berisi cincin di tangannya. Menggunakan tuxedo hitam dengan dasi kupu-kupu yang melingkar di lehernya membuatnya tampak manis dan menggemaskan.
“Terima kasih, sayang.” Ucap Kris setelah mengambil cincin dari Kane. Mengelus kepalanya sebelum membiarkan bocah enam tahun itu kembali ke tempatnya.
Tepukan tangan kembali terdengar usai Kris dan Taeri memasangkan cincin di jari masing-masing.
Kris mengecup kening Taeri dan kembali menarik wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu ke dalam pelukannya.
Acara berlangsung meriah meski tidak banyak tamu yang di undang. Tapi bagi Kris dan Taeri kehadiran para sahabat sudah lebih dari cukup. Semua berjalan lancar. Terima kasih untuk kedua belas teman Kris. Taeri masih sibuk melepas rindu pada Baekhyun ketika Kris datang menghampirinya. Memeluk pinggangnya dia membisikan sesuatu yang membuat Taeri menatapnya bingung. “Kejutan lain yang ku janjikan.”
Taeri mengikuti arah pandang Kris saat pria itu ternyata menatap salah seorang dari panti asuhan yang menemani Kane berjalan ke arah mereka dengan sebuah map di tangannya. Kris menerima map yang di berikan padanya dengan senyum dan mengucapkan terima kasih. Kemudian dia menyerahkan map itu padanya. Taeri menerimanya dengan kening berkerut.
“Apa ini?” Tanyanya.
Baekhyun memilih pergi meninggalkan pasangan pengantin baru itu untuk bergabung bersama Sehun dan Chanyeol yang sedang bermain bersama Kane.
“Buka dan lihatlah.” Ucap Kris.
Merasa penasaran, Taeri pun membuka map itu untuk menemukan sendiri jawabannya. Bola matanya bergerak untuk membaca huruf demi huruf yang tercekat di atas selembar kertas putih itu sebelum akhirnya pekikan kecil terdengar dari mulutnya. Di susul kedua matanya yang membelalak menatap tak percaya isi map itu dan wajah Kris bergantian. Kris hanya tersenyum dan mengangguk.
“Ini sungguhan? Kris, kau sedang tidak bercanda kan?” Taeri masih belum bisa percaya dengan apa yang dia baca itu. Kris terkekeh dan mengacak surai istrinya itu lembut.
“Hal seperti ini apa mungkin bisa untuk di jadikan bahan candaan, hm?”
Detik berikutnya senyum terbit dari kedua sudut bibirnya dengan air mata yang entah sejak kapan turun membasahi pipi gadis itu lagi. “Kris…” Taeri tidak bisa lagi untuk mengatakan apapun selain berhambur ke pelukan suaminya. “Terima kasih.” Ucapnya yang di sertai isakan kecil. Kris mengangguk sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh Taeri.
“Kau benar-benar penuh dengan kejutan. Bagaimana bisa kau berpikir untuk mengadopsi Kane?”
“Kau mengatakan padaku kemarin jika kau sangat ingin mengadopsinya, ingat? Dan sebagai suami yang baik aku hanya mencoba mengabulkan keinginan istrinya.” Taeri terkekeh dengan ucapan Kris. Betapa beruntungnya dia memiliki Kris. “Lagi pula tidak ada alasan lagi untuk mereka menolak. Kita sudah menikah. Dan ku pikir, mungkin ini salah satu rencana Tuhan untuk kita. Anggap saja kehadiran Kane sebagai pengganti anak kita yang sudah pergi.”
“Hm, kau benar.”
Taeri melepaskan pelukannya, sekali lagi menatap surat yang menyatakan Kane telah resmi di adopsi oleh mereka, dengan senyum yang tak kunjung hilang dari wajah cantiknya.
“Kau senang?” Tanya Kris. Mengelus puncak kepala Taeri lembut. Gadis itu mengangguk.
“Tentu. Sekali lagi terima kasih. Ini adalah kado pernikahan yang paling indah, Kris.”
~o0o~
“Rumahnya kosong, Tuan. Mereka tidak ada di mana pun.”
“Brengsek! Apa mereka membawa kabur putri ku?”
“Maaf, Tuan. Kami tidak tahu. Tapi saya pikir mereka tidak pergi, karena barang-barangnya masih nampak utuh. Kecuali barang-barang milik Nona muda. Semuanya tidak ada. Sepertinya hanya Nona muda yang melarikan diri.”
Tangan itu terkepal erat di atas pangkuan. Rahangnya mengeras di ikuti desisan tajam. Sorot matanya yang memang selalu tajam kini tampak terlihat makin bengis. Seolah siap membunuh siapa pun yang kini terjangkau oleh pandangannya.
“Apa kami perlu berjaga di sini, Tuan? Dan menunggu salah satu penghuni rumah ini kembali lalu memaksa mereka untuk mengatakan di mana keberadaan Nona muda.”
“Tidak perlu. Cukup berjaga saja sampai aku memberikan perintah. Selebihnya tidak perlu lakukan apapun, hanya tetap awasi gerak gerik mereka. Sekarang, kembali ke hotel.” Ucapan bernada perintah itu jelas tidak bisa di bantah. Siapa pun yang bekerja dengannya sangat memahami bagaimana watak keras sang majikan. Maka dari itu tidak ada yang berani membantah selain mengatakan “Baik Tuan.”
Mobil pun melaju meninggalkan pelataran rumah Bibi Liu membawa sang majikan ke Hotel sesuai permintaannya. Membiarkan dua anak buahnya tetap di sana untuk mengawasi. Tanpa tahu jika ada kelompok lain yang lebih dulu berjaga di sana dengan tujuan yang sama.
~o0o~
Lambaian serta seruan riang terdengar mengiringi pasangan pengantin baru itu memasuki mobil. Hingga Audi R8 itu menghilang di tikungan jalan. Henry menoleh ke arah teman-temannya, menggunakan matanya dia memberikan kode yang kemudian di ikuti oleh yang lainnya. Detik berikutnya mereka ikut menghilang dari kerumunan undangan yang masih menatap mobil pengantin itu jalan menjauh.
“Untuk sekarang kita tidak bisa membawa serta Kane. Setelah keadaannya membaik, aku akan kembali untuk menjemput Kane. Kau tidak apa-apa kan jika Kane masih berada di panti asuhan untuk sementara?” Ucap Kris setelah mobilnya sudah berjalan cukup jauh dari gereja tempat mereka melangsungkan pernikahan.
Kris mengelus punggung tangan Kris yang tengah menggenggam tangannya dengan tangannya yang lain dan tersenyum. “Tidak apa-apa. Aku percaya padamu.”
Kris mengecup tangan Taeri dan membawanya ke atas pangkuannya. Sama sekali tidak tergangggu menyetir dengan satu tangan.
“Memang kita akan kemana, Kris?”
“Portland.”
Taeri membulatkan matanya terkejut. Amerika? Sejauh itukah mereka akan kabur?
“Kenapa? Kau keberatan?” Kris menoleh menatap wajah istrinya. Karena tidak mendengar jawaban apapun dari gadis di sampingnya dia pikir gadis itu tidak akan setuju.
Taeri membalas tatapan Kris lantas menggeleng. “Tidak, tidak. Tentu saja tidak. Aku akan ikut kemana pun kau pergi. Hanya sedikit terkejut. Tidak menyangka jika kau akan membawa ku pergi sejauh itu.” Kemudian gadis itu terkekeh.
“Kita mampir ke apartemen ku dulu sebentar. Aku harus mengambil sesuatu.”
Taeri mengangguk. “Eum.”
Tidak butuh waktu lama. Hanya lima belas menit dari gereja untuk sampai di apartemen mewah yang selama ini di tinggali Kris selama dirinya di Hongkong. Kris melepas seat belt-nya dan segera turun dari mobil. Pria itu menunduk untuk melihat Taeri yang berada di dalam mobil. “Tunggu sebentar. Jangan pergi kemana pun. Aku tidak akan lama.” Pesannya. Dan berbalik pergi setelah mendengar gumaman serta anggukan gadisnya.
Baru lima menit berlalu, dan Taeri mulai merasa bosan. Mungkin Kris baru memasuki kamar apartemennya. Gadis itu melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya dan menghembuskan napasnya bosan. Suara ketukan kaca mobil di samping tubuhnya membuatnya beralih menatap ke samping untuk melihat siapa yang mengetuknya. Kerutan di keningnya telrihat ketika mendapatkan seorang pria tengah membungkukan tubuhnya menunggunya untuk segera membuka kacanya. Tanpa ada rasa curiga sedikit pun dia membukanya, mungkin hanya orang yang ingin bertanya. Begitu pikirnya. Namun belum sempat Taeri mengeluarkan suaranya, orang itu sudah lebih dulu membekap mulutnya dengan sapu tangan. Taeri meronta mencoba melepaskan tangan itu dari mulut dan hidungnya. Tapi tenaganya makin lama makin melemah. Kepalanya mulai terasa pusing di ikuti matanya yang terasa berat. Hingga kedua mata itu benar-benar tertutup.
Taeri pingsan setelah di bius. Dengan cepat orang itu membuka pintu mobil dan membawa Taeri keluar dari mobil Kris dengan mudah. Membopong tubuh Taeri menuju mobil yang sudah menunggu tidak jauh dari tempatnya. Langkahnya belum jauh ketika benda tumpul menghantam belakang lehernya. Pria itu tumbang dengan tubuh Taeri masih dalam gendongannya. Namun tubuh gadis itu sudah berpindah tangan sebelum menyentuh aspal keras di bawah sana. Membiarkan hanya pria itu yang menghantam kerasnya aspal basement.
–
Sehari sebelum pernikahan:
“Jelaskan pada kami rencana B apa yang kau maksud?”
“Begini.” Henry menatap temannya satu persatua yang mulai memasang wajah serius. Dengan perlahan dan jelas dia mulai menjelaskan. “Setelah acara pernikahan Kris pasti akan langsung membawa Taeri pergi. Aku yakin anak itu tidak akan mau menunggu lagi. Tapi memang seharusnya seperti itu. Kita akan mengikuti mereka dari belakang…”
“Secara diam-diam?” Sela Tao.
“Tepat.” Henry menjentikan jarinya. “Kris ataupun Taeri tidak boleh mengatahui ini. Selain karena Kris yang pasti tidak akan menyetujui, kita juga harus berhati-hati agar tidak mencurigakan pihak musuh. Aku yakin sekali, besok berita pernikahan Kris pasti akan sampai di telinga Ayahnya. Atau mungkin sudah. Dan kalian pasti sudah bisa menebak apa yang akan dia lakukan.”
“Selain mengikutinya, apa lagi yang akan kita lakukan?” Tanya Kyungsoo.
“Begini, aku yakin sekali pelarian mereka nanti tidak akan mulus. Maka dari itu kita harus mem-back up mereka. Siapkan tenaga dan senjata kalian. Aku tahu kalian masih menyimpan pistol kebanggan kalian itu meskipun kalian sudah berhenti menjadi seorang mafia.”
Chanyeol menepukan tangannya sekali lalu bangkit berdiri. Dengan wajah sumringah dia menatap teman-temannya. “Jadi artinya kita akan berperang lagi. Iya kan? A-ha, aku siap.” Katanya semangat.
–
“Hampir saja. Bagaimana? Apa mereka masih mengikuti?”
“Tidak. Sepertinya mereka kehilangan jejak kita.”
“Syukurlah.”
Hembusan napas lega terdengar di dalam mobil yang di isi empat orang pria itu. Chanyeol menoleh ke arah Taeri yang masih belum sadarkan diri. Menatap prihatin gadis itu.
“Bagaimana dengan Kris Hyung? Harusnya tadi kita menyusulnya dulu.”
“Tidak, Sehun-ah. Itu sama saja kita mengantarkan nyawa jika kita tetap di sana.” Ucap Suho menjawab kegelisahan Sehun. Sambil tetap fokus menyetir, dia kembali bicara. “Kita cari waktu yang tepat, setelah itu kita jemput Kris.”
“Tapi Kris Hyung pasti akan kebingungan karena tidak bisa menemukan Taeri Noona. Apa kita hubungi saja dia?”
“Tidak, tidak. Jangan.” Larang Xiumin. “Jangan sekarang. Situasinya masih bahaya, ketua bisa saja menemukan kita.”
Mereka semua mendesah. Membenarkan ucapan Xiumin. Tidak ada pilihan lain selain menunggu dan bersembunyi. Chanyeol melirik ke belakang, dan bernapas lega melihat mobil teman-temannya berada di belakang.
~o0o~
Kris berdiri mematung di tengah ruang tamunya ketika mendapati siapa yang tengah duduk begitu santai dengan kaki di silangkan di atas sofanya. Dari tempatnya Kris bisa melihat seringai tersungging dari dua sudut bibirnya yang tertarik.
“Terkejut, anak ku?” Kris mengeraskan rahangnya mendengar suara yang begitu di hafalnya dan sangat di bencinya ini. “Ah, ngomong-ngomong selamat atas pernikahan mu.” Ucapnya dengan nada seolah itu adalah kalimat tulus pada umumnya. Namun Kris mendecih, tahu jelas jika ucapan itu tak lain adalah sebuah sindiran untuknya. Kris terlampau memahami kalimat munafik semacam itu.
“Mau apa kau ke sini? Apa kau sudah tidak sanggup menyewa hotel hingga menumpang istirahat di apartemen ku?”
Tawa sumbang keluar dari pria yang sudah tidak sudi lagi Kris panggil Ayah. “Kau benar-benar tidak sopan, Yifan. Apa begini sambutanmu untuk orang tua mu, hm? Bahkan kau tidak memberitahu ku jika kau akan menikah hari ini. Kau sepertinya begitu membenci ku.” Tawa itu terdengar lagi, membuat Kris yang mendengarnya muak. “Aku juga ingin melihat menantu ku. Di mana dia? Kau tidak membawanya pulang?”
“Berhenti bicara omong kosong.” Sentak Kris dengan emosi yang mati-matian dia tahan. Di sudut hatinya yang lain, dia khawatir dengan keadaan Taeri di bawah sana. Jika Ayahnya di sini, itu artinya ada beberapa anak buah Ayahnya juga di bawah sana. “Apa yang kau inginkan?” Tanya Kris dengan kesabaran yang mulai menipis. Tangannya mengepal erat menahan emosi.
“Apa yang ku inginkan?” Lagi-lagi pria itu tertawa. “Akhirnya kau bertanya juga. Tentu saja kepatuhanmu dan kehancuran gadismu.”
Kris mendecih. “Dalam mimpimu.”
Dia hendak berbalik untuk keluar namun dua orang anggota yamaguchi-gumi menghadangnya. Kris mendengus, menatap dua orang itu dengan pandangan malas. “Mingirlah, aku sedang tidak ingin memukul orang.” Ujarnya. Tapi dua pria dengan badan besar itu tidak bergeming. Mereka tetap di tempatnya menatap Kris tanpa ada rasa takut sedikit pun.
Kris memutar bola matanya sebentar sebelum memutuskan menerobos celah yang ada di tengah dua tubuh pria itu. Tapi kedua lengannya di cekal hingga kemudian di dorong mundur.
“Brengsek! Minggir ku bilang!!” Teriaknya. Dia mulai marah. Tapi lagi-lagi mereka hanya diam tanpa sedikit pun terintimidasi oleh tatapan tajam Kris.
Mengambil peruntungannya lagi, Kris kembali merangsek maju. Seolah dua tubuh besar di depannya bukanlah penghalang berarti yang dengan mudah dia lewati. Tapi lagi-lagi pria itu harus terdorong ke belakang.
“Brengsek!” Desisnya.
Dengan gerakan cepat, dua orang dengan tubuh besar itu mengunci tubuh Kris dan menyeretnya ke dalam kamar setelah mereka mendapatkan kode perintah dari sang majikan. Kris meronta, berteriak, memaki bahkan mengumpat meminta untuk di lepaskan. Tapi tenaganya seolah tak berarti apa-apa bagi dua anggota yamaguchi-gumi itu.
“Lepaskan aku, brengsek. Kau ingin aku hajar, hah?” Teriakan dan ancaman Kris bagai angin lalu. Dengan mudah tubuhnya di seret untuk kemudian di kurung di dalam kamar.
DUG…DUG…DUG…
“Buka pintunya, sialan!!”
“Dengar, Yifan! Menyerah sekarang dan kembali patuh padaku maka kau akan mendapatkan kembali kebebasan mu. Atau teruslah membangkang dan aku akan mengirimkan mayat istrimu besok pagi.”
DUAG
“Brengsek! Aku yang akan membunuhmu dengan tanganku sendiri jika kau berani menyentuhnya seujung kuku pun. Tidak peduli kau orang tua ku atau bukan.”
Pria tua itu tertawa. “Ancaman yang sangat bagus, nak. Kalau begitu tunggu hadiah ku besok pagi.”
“Jangan berani-berani menyentuhnya, bajingan!!!”
DUG…DUG…DUG…
Teriakan itu tak di hiraukan. Hanya senyum sinis yang tercipta di sana.
“Tetap di sini. Awasi dia. Jangan sekali-sekali membiarkannya lolos jika tidak ingin nyawa kalian yang ku habisi.” Kedua pria itu membungkukan tubuhnya dan berseru bersamaan. “Baik, ketua.” Siapa pun tahu jika ancaman itu tidak pernah main-main. Mereka membiarkan tubuh pria paruh baya yang menjadi ketua mereka itu keluar. Meninggalkan ruangan dan apartemen milik anaknya yang saat ini sedang di kurung di dalam kamar. Layaknya seorang anak nakal yang sedang mendapatkan hukuman dari sang Ayah.
~o0o~
PLAK
“Bodoh! Bodoh! Semuanya bodoh! Bagaimana bisa hanya menculik seorang wanita saja kalian gagal. Apa saja kerjaan kalian, hah?”
“Maaf ketua. Kami di serang tiba-tiba.”
“Aku tidak butuh alasan.”
DOR…DOR…
Tanpa peringatan apa lagi berpikir. Dua peluru di tembakan tepat ke arah kepala dua anak buahnya. Memasukan kembali pistolnya di balik jas, dia pun melenggang menuju mobilnya tanpa rasa bersalah. Layaknya baru membunh dua ekor nyamuk dengan wajar. Berseru sebelum benar-benar masuk mobil. “Bereskan mereka.”
“Baik, Ketua.”
Suara mesin mobil menyala ketika dia sudah duduk dengan nyaman di kursi penumpang. Membiarkan sang anak buah membawa mobilnya meninggalkan area parkir gedung apartemen.
“Kageyama.”
“Ya, Ketua?” Pria yang di panggil Kageyama itu melirik ke arah spion di atas kepalanya. Menunggu kalimat lanjutan yang ingin di lontarkan majikannya.
“Lacak keberadaan Suho dan yang lainnya.”
“Baik, Ketua.”
~o0o~
Cahaya yang menyilaukan mata, dan rasa sakit yang menyerang kepalanya Taeri rasakan ketika gadis itu membuka matanya. Membuatnya mengernyit menahan rasa di kepalanya yang seperti di pukul-pukul. Taeri mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan dengan cahaya yang masuk melalui retinanya. Dan mendapati wajah-wajah yang sudah tidak asing lagi untuknya ketika penglihatannya sudah bisa beradaptasi dari kegelapan dengan cahaya terang. Gadis itu berusaha untuk bangun yang langsung di bantu oleh Kyungsoo yang saat itu duduk di tepi tempat tidur untuk bersandar pada kepala ranjang.
“Kalian? Aku…” Taeri mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Lalu menatap Kyungsoo. “Di mana ini?” Dia berusaha mengingat kenapa dirinya ada di atas ranjang dengan sebelas sahabat suaminya mengelilinginya? Kemudian ingatan terakhirnya masuk dan membuatnya membulatkan matanya.
“Aku…” Gadis itu kembali mengedarkan pandangan. Menatap satu persatu wajah cemas di hadapannya, mencari satu wajah lain yang sepertinya tidak ada di sana. “Di mana Kris? Tadi aku sedang menunggunya di mobil. Lalu-“
“Noona, tenanglah.” Kyungsoo berusaha menanangkan Taeri dengan mengelus bahu gadis itu. “Kau hampir di culik oleh anggota yamaguchi-gumi. Tapi bersyukur kita ada di sana saat itu dan bisa langsung menolongmu.”
Taeri menahan napasnya. Matanya membulat sempurna. “Y-yamaguchi-gumi?” Jantungnya langsung bergemuruh hebat ketika mendengar nama kelompok itu. Lalu, di culik? Bagaimana dengan…
Taeri menggenggam tangan Kyungsoo dengan kuat. “Di mana Kris?” Tanyanya. “Di mana suami ku?” Taeri memandang mereka. Berharap salah satu dari mereka bisa memberikan jawaban. Namun satu pun tidak ada yang mengeluarkan suara. Taeri menyingkap selimutnya berniat untuk bangun dari sana mencari keberadaan Kris. Tapi tubuhnya segera di tahan sebelum kakinya mencapai lantai kamar.
“Noona, tenanglah dulu. Kris Hyung kemungkinan masih berada di apartemennya. Dan pasti di sana masih di jaga oleh beberapa anggota yamaguchi-gumi. Maka dari itu kita tidak bisa gegabah. Apa lagi kau yang menjadi target incaran mereka.” Chanyeol berusaha menjelaskan.
“Chanyeol benar. Nanti aku dan beberapa dari kami akan ke sana untuk membantu Kris lari. Kau tetap di sini dan istirahatlah. Ini apartemen ku. Kau aman di sini. Tidak ada yang tahu apartemen ini. Aku bisa menjamin itu.”
Taeri masih gelisah. Air mukanya masih menampakan betapa gadis itu cemas dan ingin memastikan sendiri keadaan Kris.
Henry meremas bahu Taeri pelan. Dan bicara semeyakinkan mungkin. “Aku janji akan membawa Kris padamu. Tenanglah.” Katanya. Berharap benar-benar bisa menenangkan gadis itu. Taeri mengangguk pelan. Meski masih terlihat keraguan serta kecemasan di wajahnya, tapi gadis itu mencoba untuk percaya.
“Sekarang lebih baik Noona kembali istirahat. Setelah di bius tadi tubuhmu pasti masih terasa lemas.” Baekhyun merapihkan bantal di belakang tubuh Taeri dan memaksa gadis itu untuk kembali berbaring yang di turuti Taeri tanpa bantahan. Membenarkan letak selimut Taeri, mereka pun segera beranjak keluar.
Baekhyun menoleh ketik pergelangan tangannya di cekal dan mendapati wajah cemas Taeri menatapnya. “Baek, apa kali ini aku dan Kris akan gagal lagi? Kami bahkan baru saja mengucapkan janji suci di hadapan Tuhan beberapa jam yang lalu. Apa…apa kami akan kembali berakhir-“
“Ssst…Noona. Jangan berpikir yang macam-macam.” Baekhyun duduk di tempat yang sebelumnya di tempati Kyungsoo. Mengelus tangan Taeri pelan. “Tuhan selalu bersama kalian. Jadi percayalah jika semuanya akan baik-baik saja.”
Air mata jatuh dari sudut mata gadis itu. Menatap Baekhyun dengan nanar, Taeri mengangguk. Kemudian dia pun memejamkan mata. Dalam kegelapannya, gadis itu berdoa, meminta pada Tuhan untuk membiarkan mereka bersama apapun yang terjadi.
Kesedihan itu turut di rasakan oleh pasang mata yang masih berada di sana. Menyaksikan bagaimana rapuhnya gadis itu. Sepanjang mereka mengenal Taeri, inilah kali pertama mereka melihatnya begitu rapuh. Seolah hanya dengan sentuhan kecil saja bisa menghancurkannya dengan mudah. Entah itu karena pengaruh kondisinya yang pernah mengalami amnesia atau bukan. Yang jelas mereka tidak pernah melihat Taeri selemah ini. Bahkan dulu, gadis itu sempat tersenyum ketika pisau menancap perutnya hingga menghilangkan janinnya.
“Kai, Chanyeol, Baekhyun, Tao dan Luhan ikut aku dan Henry untuk membebaskan Kris. Yang lain kembali ke Hotel.” Suho langsung memerintah dengan cepat setelah mereka berada di luar kamar yang di tempati Taeri.
“Lalu bagaimana Taeri Noona? Jika kami semua pergi siapa yang menjaganya?”
“Tidak perlu khawatir Sehun. Sudah ku bilang apartemen ku aman. Ada yang menjaga Taeri selama kita pergi.” Ucap Henry. Tapi Sehun sepertinya masih belum begitu yakin.
“Apa mereka bisa di andalkan?”
“Kau lihat saja di depan, siapa yang menjaganya.” Sehun mengerutkan keningnya mendengar jawaban Henry. Begitu pun yang lainnya. Maka Chen dan Kyungsoo bergerak lebih dulu ke arah pintu untuk melihat. Detik berikutnya mereka harus ternganga tak percaya. Baekhyun yang penasaran dengan ekspresi dua sahabatnya itu pun menyusul untuk ikut melihat. Di ikuti Sehun di belakangnya. Dan ekspresi yang sama terlihat di kedua wajah tampan mereka.
“H-hyung, m-mereka…” Sehun kehilangan kata-katanya. “Wah…kau bercanda. Apa yang di lakukan anggota kepolisian di depan apartemenmu?”
Henry terkekeh geli. “Paman ku adalah kepala kepolisian Hongkong jika kalian ingin tahu.”
“APA??” Teriakan kompak itu membuat telinga Henry berdengung hampir tuli.
“Ck. Biasa saja. Tidak perlu berlebihan.” Cibirnya.
“Ya! Kau bagaimana bisa baru mengatakan hal ini? Kita mantan anggota Yakuza. Dan kau barusan bilang…”
“Eiiyyy…aku tidak selicik itu. Sudah tenang saja. Sekali pun ada yang ingin aku laporkan kejahatannya, tentu itu Ayah Kris dan Taeri serta anak-anak buahnya.”
“Kris sudah tahu hal ini?” Tanya Luhan.
Henry mengangguk. “Sudah sejak lama.” Jawabnya. “Kita lanjutkan nanti. Sebaiknya kita segera pergi sebelum anak buah Ayah Kris melacak keberadaan kalian dan menemukan kalian di sini.” Henry segera membimbing mereka menuju pintu keluar. Bicara sebentar pada salah satu anggota polisi yang Henry minta tolong untuk menjaga apartemennya. Menjaga seseorang yang berada di dalamnya, tepatnya. Kemudian melangkah menuju lift bersama yang lain.
“Yamaguchi-gumi dan sumiyoshi-kai adalah salah satu kelompok mafia terbesar. Sudah sejak lama mereka menjadi incaran kepolisian Seoul, Jepang dan China. Tapi mereka terlalu pintar menghilangkan barang bukti. Kalian tentu yang paling tahu bagaimana rapihnya pekerjaan mereka. Pihak kepolisian tidak bisa bergerak jika tidak ada bukti.” Jelas Henry ketika pintu lift otomatis tertutup. Pria itu terkekeh sebelum kembali bicara. “Beruntung kalian sudah keluar dari kelompok itu. Jika tidak, kalian tentu ikut menjadi incaran.”
“Tapi tetap saja, kami ini mantan anggota mereka. Pernah melakukan kejahatan. Jika mau di usut lebih dalam, kami pun pasti bisa masuk dalam list pencarian.” Kata Chanyeol.
Henry mengangguk. “Tentu saja. Kenapa? Kalian ingin merasakan tidur di balik jeruji? Aku bisa membantu jika kalian mau.” Dan pria itu pun tertawa ketika mendapatkan pukulan serta toyoran di kepalanya dari teman-temannya.
~o0o~
Suho, Baekhyun, Chanyeol, Kai, Tao dan Henry tiba di depan gedung apartemen Kris. Mereka memarkirkan mobil sedikit jauh dari gedung, karena tahu jika beberapa anggota yamaguchi-gumi pasti ada yang berjaga di luar gedung. Jadi seminimal mungkin mereka berusha untuk tidak menarik perhatian.
Turun dari mobil mereka segera melesat ke lobi, bergabung bersama orang-orang yang kebetulan juga akan masuk ke dalam.
“Lewat tangga darurat.” Ucap Suho. Yang langsung di ikuti oleh yang lain.
Sedikit menguras tenaga menggunakan tangga darurat untuk ke lantai delapan, di mana kamar apartemen Kris berada. Tapi itu jauh lebih baik di banding menggunakan lift dan beresiko tertangkap oleh salah satu anggota yamaguchi-gumi.
Tebakan mereka benar. Di depan apartemen Kris, berdiri tiga orang anggota yamaguchi-gumi. Suho menahan teman-temannya untuk menahan langkah mereka.
Menyembunyikan diri di balik tembok guna mengatur strategi.Revolver tergenggam di tangan Suho. Di belakangnya, Kai menendang tong sampah yang beada tidak jauh dari tempat mereka. Menimbulkan bunyi berisik hingga mencuri perhatian tiga pria yang tengah berjaga itu. Mereka buru-buru bersembunyi ketika salah satu dari ketiga pria itu berjalan ke arah mereka. Dan tepat saat itu Tao keluar dari persembunyiannya, tanpa menunggu lama dia memukul pria tersebut tepat di tengkuknya. Titik di mana yang langsung membuat sang lawan pingsan detik itu juga. Menimbulkan suara brakcukup keras ketika tubuh besarnya jatuh menghempas lantai. Bunyi itu tentu tidak luput dari pendengaran dua pria yang masih berjaga di depan pintu apartemen Kris. Mengundang rasa penasaran bagi keduanya. Setelah berpikir beberapa saat, mereka pun memutuskan untuk mengecek sekaligus menyusul rekan mereka yang sudah lebih dulu menghilang di balik tembok tersebut.
Mereka terkejut ketika melihat teman mereka sudah tergeletak tak berdaya. Sinyal waspada langsung terpasang otomatis. Mereka baru akan bergerak untuk mencari tahu apa penyebab, siap tepatnya, yang membuat teman mereka tumbang. Tapi mereka kalah cepat, dari arah belakang Kai dan Chanyeol muncul dan langsung menendang keduanya. Mereka tersungkur ke depan. Berbalik cepat, secepat tangan mereka yang menarik pistol di balik baju. Tapi lagi-lagi mereka kalah cepat. Bunyi tembakan terdengar di ikuti pekik kesakitan dua orang yang tangannya baru saja menjadi target peluru Suho. Pistol yang menjadi senjata mereka terlempar, mengambil kesempatan, maka Chanyeol dan Kai langsung maju dan menendang mereka sekali lagi. Memukul hingga keduanya tak berdaya. Setelahnya dengan cepat mereka mengikatnya dengan tali yang entah di dapatkan Henry dari mana. Menggabungkan dengan satu pria yang sudah lebih dulu pingsan.
Mereka segera menuju pintu apartemen Kris setelah meninggalkan ketiga pria yang sudah mereka buat babak belur itu. Dua di antaranya tengah bertahan melawan sakit akibat peluru panas yang Suho tembakan.
Henry mengetuk pintu apartemen Kris. Tidak berapa mereka mendengar suara derap langkah kaki mendekat ke arah pintu. Mereka langsung merapatkan tubuh pada tembok, bersiap menyambut kedatangan siapa pun yang akan membuka pintunya. Bunyi pintu terbuka di ikuti munculnya seorang pria berbadan besar dengan setelan hitam. Persis seperti tiga pria yang mereka buat lumpuh sebelumnya. Tanpa aba-aba Suho langsung bergerak dan menendang pria itu. Mendengar keributan serta melihat rekan kerjanya yang tiba-tiba tersungkur ke belakang tentu membuat mereka langsung bergegas ke arah pintu dengan pistol sudah di tangan. Namun gerakan mereka masih kurang cepat di banding Suho. Pria itu kembali menembakan peluru pada lengan orang-orang anggota yamaghuci-gumi dengan gerakan terlampau cepat, hingga tidak bisa membuat mereka sempat membalas. Henry masuk yang di ikuti Chanyeol, Baekhyun dan yang lainnya. Perkelahian tidak bisa di hindari setelahnya. Pukulan, tendangan serta teriakan terdengar bersahutan. Ruang tengah apartemen Kris seketika berubah menjadi arena tinju. Sofa serta meja sudah bergeser dari tempatnya, bahkan terbalik mengenaskan. Kai menendang salah seorang anggota yamaguchi-gumi hingga tersungkur membentur meja dan mengakibatkan meja itu pecah. Baekhyun sukses membanting lawannya. Ternyata yang menjaga di dalam apartemen Kris lebih banyak di banding yang di depan pintu tadi. Mungkin sekitar enam orang atau lebih.
Tao mendapati seseorang tengah mengambil ancang-ancang untuk menembak Henry ketika pria itu tengah sibuk dengan lawannya. Tepat ketika pria itu akan menekan pelatuknya, Tao menendang lengannya hingga pistol itu terlempar. Lalu meraih pria itu dan memukul rahangnya dengan keras berkali-kali hingga orang itu mengeluarkan darah dari mulutnya. Dan satu tendangan terakhir di perutnya membuatnya memuntahakn darah. Tao menatap sinis orang itu sebelum meninggalkannya.
Helaan napas terdengar ketika para mafia itu sudah terkapar di atas lantai. Baekhyun melihat mereka satu persatu dengan tatapan malas.
“Harusnya kalian tidak bertindak bodoh dengan melawan kami. Kalian tentu tidak lupa kan siapa kami? Aku bahkan bisa mematahkan kakimu saat ini juga jika aku mau.” Tunjuk Baekhyun pada salah satu pria yang tengah terbatuk sambil memegangi perutnya.
Krakk…Bugh!
Kai menginjak ponsel milik salah seorang di antara mereka dan langsung menendang wajahnya ketika tidak sengaja dirinya menangkap pria itu tengah melakukan sesuatu pada ponselnya. Mungkin mengirim pesan untuk meminta bantuan.
Cukup mudah bagi mereka mengalahkan anggota yamaguchi-gumi. Selain memiliki latar belakang mafia dan pintar dalam bela diri, tentu mereka juga menang dalam jumlah. Jadi tidak perlu menunggu lama, Suho dan yang lainnya sudah mampu membuat mereka semua tumbang.
Chanyeol segera berlari ke arah pintu kamar Kris dan langsung mendobraknya. Membuat sang penghuni kamar di buat terkejut akan kehadirannya. Kris terbelalak di tengah kamarnya, menatap teman-temannya satu persatu.
“Kalian? Kenapa kalian bisa ada di sini?”
Henry memutar bola matanya malas. Pertanyaan bodoh, pikirnya. “Tentu saja menyelamatkanmu. Apa lagi?”
“Bukan, bukan itu. maksud ku bagaimana kalian tahu jika aku…” Kris tidak menyelesaikan kalimatnya. Terlalu bingung memilih kata yang tepat.
“Sudahlah, itu nanti saja di ceritakan. Yang jelas ayo cepat pergi dari sini sebelum anak buah Ayahmu yang lain datang.” Kata Suho akhirnya. Mengiring teman-temannya untuk segera keluar dari apartemen Kris.
“Kalian pergilah lebih dulu. Aku harus mencari Taeri…”
“Tidak perlu. Taeri ada bersama kami.” Lagi-lagi Kris di buat terperangah oleh jawaban teman-temannya.
“Kalin berhutang penjelasan pada ku.”
Chanyeol berdecak malas. “Kami tahu. Sudah, ayo!”
Kris melihat seluruh anak buah Ayahnya sudah dalam keadaan pingsan ketika dia sudah keluar dari kamarnya. Terlihat darah merembes keluar dari tangan mereka akibat peluru yang di tembakan Suho. Pria itu meringis melihatnya. Bukan ngeri atau pun kasihan. Tapi lebih ke rasa heran.
“Kenapa kalian membiarkan mereka tetap hidup?” Tanya Kris.
“Kami hanya tidak mau membuat mereka semakin murka dengan membunuhnya.” Jawab Suho.
Kris mendengus. “Berapa lama kau menjadi anggota yamaguchi-gumi? Apa dua tahun keluar dari kelompok membuat mu lupa akan kebiasaan mereka? Mati atau tidak, mereka akan tetap menuntut dendam sedikit saja mereka di usik.”
Tao menepuk pundak Kris dari belakang. “Tentu kami tahu. Kami hanya tidak ingin menjadi pembunuh lagi. Cukup membiarkan mereka cidera.” Jawabnya.
Kris menghela napas. “Yah, terserahlah.”
Mereka kembali melewati tangga darurat lagi, tapi sebelum itu Kris lebih dulu menghentikan langkah mereka. “Lewat sini.” Ujarnya. Dia membawa teman-temannya menuju lift barang. “Lewat tangga darurat akan memakan waktu lama. Tidak menutup kemungkinan kita bisa di kejar dengan mudah.”
~o0o~
“Jad, ceritakan! Kenapa kalian bisa tahu dengan apa yang terjadi padaku? Dan bagaimana kalian bisa membawa Taeri?” Tanya Kris bertubi ketika mereka sudah berada di dalam mobil.
“Kita mengikuti mobil kalian setelah acara pernikahan itu.” Jawab Suho.
Kris mengerutkan keningnya, terlihat tidak suka dengan jawaban yang dia dengar. “Aku kan sudah menyuruh kalian untuk langsung pulang.”
“Ck. Bisa tidak sebentar saja kau hilangkan keras kepalamu itu? Kau pikir kami bisa pulang dengan tenang sedangkan kami tahu kalian sedang dalam incaran. Dan terbukti kan kalian hampir tertangkap…oh ralat, memang sudah tertangkap.” Suho mendengus.
Helaan napas di keluarkan Kris dengan begitu berat. “Suho, kita sudah pernah membicarakan ini. Tentu aku sangat berterima kasih karena kalian begitu peduli. Tapi aku tidak mau membahayakan nyawa kalian demi masalah ku. Cukup sekali karena kecorobohan ku yang membuat Taeri hampir kehilangan nyawa-“
“Hyung!” Kai menyela. “Yang sudah berlalu sudahlah, tidak perlu di ungkit lagi. Itu bukan kesalahanmu. Lagi pula kita hanya melakukan perjanjian yang pernah kita buat di masa lalu. Apapun yang terjadi, kita akan selalu ada untuk satu sama lain. Tidak peduli jika nyawa yang menjadi taruhannya.” Kai mengulang perjanjian yang pernah mereka ucapkan dulu. Perjanjian yang selalu mereka sebut dengan janji persahabatan.
Suho melirik Kris dan tersenyum tipis. “Kau dengar kan? Jadi tidak perlu protes lagi. Kita tahu apa yang kita lakukan.”
Tepat setelah Suho menyelesaikan kalimatnya, ponsel Kris berdering nyaring. Nomor tak di kenal, dan entah bagaimana dia memiliki firasat buruk akan hal itu.
Kris menempelkan benda pipih itu ke telinganya setelah menggeser tanda hijau pada layarnya. Tubuhnya menegang seketika saat mendengar suara yang sudah sangat tidak asing lagi di pendengarannya. Suara yang selalu menjadi mimpi buruk untuknya.
“Nikmati kebebasanmu, nak. Hitung-hitung sambil memikirkan cara untuk menyelamatkan sahabat tercintamu.”
Untuk beberapa saat Kris tidak mengatakan apapun selain mendengarkan orang di seberang teleponnya bicara. Di detik berikutnya rahangnya mengeras di ikuti dengan sorot tajam pada tatapannya yang memandang kosong ke depan. Perubahan Kris tidak luput dari teman-temannya. Memberanikan diri, Chanyeol mencoba untuk bertanya.
“Siapa yang menelepon, Hyung?” Chanyeol sendiri memiliki firasat yang sama buruknya. Jelas dia bisa menebak jika itu bukanlah sesuatu yang bagus jika di lihat dari ekspresi gelap Kris.
“Di mana Sehun, Luhan dan yang lainnya? Kyungsoo, Xiumin, Chen, Lay?”
Suho mengernyit mendengar pertanyaan Kris. “Ada memangnya? Kenapa tiba-tiba…”
“Brengsek! Jawab saja, di mana mereka?” Tanya Kris dengan nada yang lebih tinggi.
“Mereka ada di hotel. Kami menyuruhnya untuk istirahat. Ada memangnya Hyung?” Jawab Baekhyun dengan nada herannya.
“Coba hubungi mereka. Cepat!”
Henry yang tengah mengemudikan mobil pun di buat heran. Matanya melirik Kris dari kaca spion di atas kepalanya. “Ada apa sebenarnya Kris?” Tanyanya. Tapi tak di gubris. Pria itu tengah sibuk mendesak Chanyeol yang duduk di sampingnya untuk menghubungi salah satu sahabat mereka.
“Tidak di angkat.” Ucap Chanyeol setelah menunggu beberapa saat hingga nada sambung berganti dengan suara operator.
“Ponsel Lay Hyung juga tidak aktif.” Kata Baekhyun.
“Luhan juga tidak aktif.”
“Xiumin Hyung dan Chen Hyung juga sama. Ponselnya tidak aktif.”
Kris mengepalkan tangannya dengan geram. Ini sudah tidak bisa di biarkan, Ayahnya sudah benar-benar keterlaluan.
Mereka semua sepertinya memiliki pemikiran yang sama, namun ingin bertanya pada Kris tidak berani karena ekspresinya saat ini. Dan beruntung pria itu akhirnya bicara tanpa harus mereka bertanya lebih dulu.
“Yamaguchi-gumi berhasil membawa mereka.” Satu kalimat singkat itu sudah mampu menjelaskan semuanya. Meski sudah bisa menebak apa yang terjadi sejak melihat keruhnya wajah Kris, tapi mendengar secara langsung ternyata mampu membuat jantung mereka seolah merosot ke dasar perut.
“Sepertinya kalian tidak benar-benar tahu apa yang kalian lakukan. Harusnya kalian sadar siapa yang sedang kalian hadapi. Tidak peduli sekali pun saat ini orang tua kalian masih menjadi bawahannya yang paling setia, orang tua brengsek itu tidak akan segan menghabisi nyawa kalian jika menurutnya kalian pantas untuk di lenyapkan.”
Tao dan Baekhyun tercekat mendengar penjelasan Kris. Tidak tahu harus menjawab apa, karena yang di katakan Kris sangat benar. Hingga membuat mereka kehilangan kata-kata.
Menghela napas lelah, Kris menyandarkan punggungnya pada sandaran jok mobil. Memejamkan matanya sejenak, berhara rasa pening di kepalanya bisa hilang.
“Bawa aku menemui Taeri. Aku harus memastikan keadaannya dulu. Setelah itu kita pikirkan bagaimana cara mengeluarkan Luhan dan yang lain.” Ucap Kris tanpa membuka matanya.
.
.
.
To be continued~
A/n: alhamdulillah selesai part 6. gimana? makin kesini makin garing ya? membosankan. iya kan? buat cerita dgn konsep peperangan begini ternyata susah jg :D
jujur aja, dari sekian ff yg pernah aku buat, ini doang yg bikin aku bener2 muter otak. aku sadar banget, ff ini masih banyak kekurangannya di sana-sini. maaf ya untuk suguhan cerita yg jelek ini :( next time insya allah akan lbh baik.
fiuh, *elapkeringet insya allah chapter depan final. bukan karena kurang peminatnya sih, tapi dari awal di luncurin ff ini niatnya emang ga panjang2 amat. trus juga aku mau sekedar ngingetin aja, jangan terlalu berharap sama ending dari cerita ini. karena aku bakal buat kalian terkejut dan mungkin ga terima sama endingnya nanti hahahaha tungguin aja ya :)
terakhir, aku ga pernah bosen bilang makasih buat kalian yg udah sempetin baca cerita ga jelas ini dan luangin sedikit waktu untuk ngisi ruang kosong di kolom komen. apapun yg kalian tulis, itu pacuan dan semangat untuk aku. makanya klo yg suka sama ceritanya, tolong dong klo bisa tinggalin beberapa patah kata untuk aku supaya akunya jg makin semangat. tapi klo yg ga suka aku persilahkan untuk berbalik pergi.
akhir kata, sampai ketemu di chapter final :)
yulianidaslim, nancy cho, waya, maudinah, meyliexl, cyeon soo, asophia53, Lily, apriliawinda, dilut, yoaans, nezarinda, fanpygel, agnes choi, sidney, yeoja kpop, asahi, realc, mentari sukma, rindyputri, kimberly, ellalibra, widiapark, bubbletie, tri
satu kata dari kalian, sangat berharga buat ku.
thanks for reading guys ^^
Warm regards,
Mrs Wu
Filed under: Crime, friendship, romance, Sadnes Tagged: exo, henry lau, kris, OC, Wu Yi Fan