
Title : My Girl (Ep.1)
Author : Aurrpsy / @aurrsyj
Casts : Kim Hyung Jun (SS501) & Park Ga Young (OC), Oh Sehun (EXO)
Genre : Drama, Marriage Life, School Life
Rating : PG-15
Length : Episodes
Desclaimer : I don’t own the casts. But the storyline belongs to me. I also apologize both the producers and the singers of the BGM for changing the original cover with mine. Lol. Jadi kalo bisa BGM nya di download ya, biar berasa kaya drama beneran hehehe. Ciao!
BGM :
01 Kim Hyung Jun – Sweet, Everyday
(DL: www.4shared.com/mp3/cvcvvVzMce/Kim_Hyung_Jun_-_Sweet_Everyday.html)
02 Superstar K2 – Thump Thump (Dugeun Dugeun)
(DL: www.4shared.com/mp3/9dh3yuc3ce/Kim_So_Jung_Lee_Bo_Ram_Park_Bo.html
03 Taeyeon & Sunny – It’s Love
(DL: www.4shared.com/mp3/Ursa5Pspba/01Ost_HTTG_-_Its_love.html)
“What is age if it comes to love..” says someone.
AURRPSY PRESENTS
*** My Girl ***
Episode 1
Ga Young’s POV
“WHAT?!” I shouted in shock and stood up. “Kenapa harus dengan cara itu?!”
Ini gila, sangat gila! Gara-gara kakakku yang ceroboh dan seenaknya itu, aku harus menggantikannya untuk menikah dengan anak keluarga Kim. “Ga Young, semua undangan sudah disebar, jika pernikahan dibatalkan maka Keluarga Kim tentunya akan sangat marah. Tidak ada cara lain atau mereka akan mencabut investasinya dari perusahaan kita. Kau tidak ingin jadi gelandangan kan, Nona?”
Geez. Sejak kepergian Ayah, keuangan perusahaan jadi melemah. Investor banyak yang pergi karena tidak percaya pada CEO yang baru, Ibuku, hanya perusahaan milik keluarga Kim yang tetap mempertahankan investasinya. And then, tiga bulan yang lalu mereka meminta kepada Ibu ku untuk menikahkan puterinya -kakakku- dengan putera mereka, dengan alasan bahwa sejak ditinggal mantan kekasihnya, putera mereka sudah tidak pernah menjalin hubungan lagi, oh bahkan terlalu menyibukkan diri untuk sekedar menjalin hubungan.
Dan kakakku yang sinting itu, Hyomin, baru saja kabur dari rumah dengan kekasih hatinya. Dia kabur seminggu sebelum pernikahan dilangsungkan. Applause. Akibat ulahnya ini, aku jadi terlibat dalam their so-monotonous-drama. Iya, seperti dalam drama dan cerita fiksi, aku harus menikah dengan orang yang tidak aku kenal. What the hell?!
Oh baik, aku memang pernah bertemu dengan Kim Hyung Jun satu kali, saat makan malam bersama keluarga Kim. “Ibu, apa Ibu sedang menjualku?” tanyaku sarkastis. “Hyung Jun itu lebih tua dari aku sepuluh tahun. Sepuluh tahun, Ibu!” aku menekan suaraku pada kata ‘sepuluh tahun’. “Dia bahkan lebih tua dari kak Hyomin dan kekasihnya. Dia itu tidak cocok jadi suamiku, dia lebih cocok menjadi pamanku.”
“Jangan berlebihan, Ga Young.” Nyonya Park yang lebay itu melambaikan tangannya. “Hanya sepuluh tahun. It doesn’t make sense.” jawabnya yang ikut-ikutan menekankan pada kata ‘sepuluh tahun’.
“Ck,” aku berdecak. “Now forget about the age thing, how about me? I’m still studying, I’m facing the final exam, and I’m still too young to marry. Kumohon jangan sekarang.”
Ibu berdiri, mengambil syalnya yang terletak di atas meja. “Ayolah, menikah bukan berarti harus putus sekolah. Benar, kan?”
Argh! Sekarang aku tahu mengapa Kak Hyomin memutuskan untuk kabur. Karena pernikahan penuh drama ini sangat memuakkan.
*****
Setelah pelayan perempuan itu pergi, Ibu cepat-cepat meringsut dari tempat duduknya. “Kami sangat menyesal akan kejadian ini tapi-” Ibu tidak sempat menyelesaikan kalimatnya karena Nyonya Kim tiba-tiba angkat bicara.
“Tidak apa-apa. Kami mengerti perasaan Hyomin. Lagipula Ga Young juga tidak kalah baik dari Hyomin. Aku yakin Ga Young bisa mengurus Hyung Jun dengan baik. Iya kan, Ga Young?” Nyonya Kim memandang ke arahku. Ah. Aku lega saat mendengar bahwa dia bisa memaklumi keadaan Kak Hyomin which means, Nyonya Kim juga pasti tidak akan keberatan jika pernikahan ini dibatalkan karena aku masih duduk di bangku sekolah.
“Ga Young-ssi?” baik, aku akhirnya tersadar dari pikiranku yang dalam.
“Eoh?” ucapku gelagapan. “Itu… Sebenarnya aku tidak-”
Buk
Aww! Sial. Apa Ibu baru saja menendang kakiku?
Ibu tersenyum penuh arti pada Tuan dan Nyonya Kim. “Ah, tentu saja Ga Young dapat melakukannya. Meskipun masih perlu banyak belajar, Ga Young akan berusaha keras, kan?” kali ini dia membelalakkan matanya padaku. Seakan berkata -mati-kau-jika-menjawab-yang-aneh-aneh-.
Aku mengusap tengkukku, “Ah, iya. Aku akan berusaha.” jawabku sekenanya sambil tersenyum kikuk.
“Aku pulang..” seru seseorang yang memasuki ruang keluarga Kim. “Maaf terlambat. Banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan sebelum mengambil cuti.” orang itu langsung membungkuk dalam pada kami semua.
Iya. Dia itu Hyung Jun. Kim Hyung Jun. Orang yang akan aku nikahi hanya dalam hitungan hari. Hebat sekali aku ini. Ckckck. Lihat, semua orang pasti akan berdecak kagum atasku. Tentu saja. Gadis kecil seusiaku menikahi pria tampan dan mapan seperti Hyung Jun. Pasti banyak yang iri.
“Oh, Ga Young, sudah lama tidak bertemu. Apa kabarmu?” Hyung Jun langsung menyapaku dengan gaya khasnya.
Aku tersenyum, “Aku baik-baik saja.”
Let me tell you, everything about this guy is nearly perfect, unless his age. Wajahnya yang tampan dan tubuhnya yang atletis. Aku bahkan tidak pernah berpikir akan mendapat kekasih seperti itu. Aku sih tipe gadis yang sadar diri. Gadis sepertiku tidak mungkin menikahi pria seperti dia jika bukan karena perjodohan. Jangankan Hyung Jun, Sehun pun, siswa yang sejak kelas satu aku kagumi, tidak pernah menatapku. Aku tidak cantik, dan tidak menarik.
“Hyung Jun, bagaimana kalau setelah ini kau dan Ga Young pergi ke pusat perbelanjaan. Apartemen yang dibehadiahkan Ayah kemarin, bukankah masih banyak yang harus dilengkapi?” Nyonya Kim mengusulkan. Aku menelan ludah.
Pergi?
Dengan Hyung Jun?
Wouldn’t it be awkward?
Ini adalah pertemuan kali yang pertama setelah berbulan-bulan. Dan berada satu mobil dengan pria itu… Tidakkah akan terasa aneh?
Aku melihat Hyung Jun yang sedang menimbang usul Ibunya. “Tidak, Bu. Kak Hyung Jun pasti lelah karena baru pulang bekerja. Lain kali saja.” kataku cepat-cepat menjawab ide Nyonya Kim.
“Benarkah, Hyung Jun?” wajah Nyonya Kim berubah kecewa. Dan dalam hitungan detik Hyung Jun langsung menjawab bahwa dia tidak lelah dan akan segera naik ke atas untuk berganti baju.
Ckckck. Tampaknya Hyung Jun begitu sayang pada Ibunya dan tidak ingin membuat wanita paruh baya itu kecewa.
Beberapa saat kemudian Aku dan Hyung Jun pamit dan bergegas pergi. Seperti yang kuduga, sepanjang perjalanan kami hanya saling diam, seolah enggan untuk berinteraksi dengan satu sama lain. Maka saat itu, aku memberanikan diri untuk angkat bicara.
“Boleh kunyalakan?” tanyaku hati-hati sambil menunjuk tombol radio di mobil Hyung Jun.
“Ah?” Hyung Jun yang sedang berkonsentrasi pada jalanan melirik sebentar. “Ya, tentu saja.”
Setelah mendapat ijin, aku menekan tombol itu. Alunan musik yang terdengar dari radio memenuhi mobil. Bagus. Sekarang suara Song Mino lah yang mendominasi.
“Wah! Winner!” seruku senang. Winner adalah boygroup yang sedang naik daun. Semua siswi di sekolahku menyukai mereka, termasuk aku. Bagiku Song Mino adalah yang paling tampan.
“Kau mendengarkan lagu seperti ini?” tanya Hyung Jun tiba-tiba. Aku yang sedang mengangguk-anggukkan kepalaku langsung terdiam.
Aku mengamati wajah Hyung Jun yang tampan, “Iya. Kenapa?” tanyaku balik.
“Tidak. Aku hanya tidak terbiasa dengan lagu-lagu yang mereka nyanyikan.”
“Hah? Kenapa? Hey, lagu-lagu mereka bagus, tariannya keren, selain itu wajah mereka juga tampan. Atau… Oh! Aku tahu! Kau pasti menyukai A-Pink atau… Eum… Lovelyz? Oh tidak, tidak, kau pasti menyukai Hello Venus!”
“Aku tidak menyukai semuanya.”
Aku terdiam.
Berpikir sejenak.
Hah…
“Pantas saja kau tidak menyukai mereka.” lanjutku.
“Eoh?” Hyung Jun melihatku sejenak.
Aku mengangguk, dengan wajah terganggu aku menjawab, “Selera musikmu berbeda denganku.” Aku menggelengkan kepala sambil berdecak. “Kau… Aku tahu kalau sampai sekarang kau mungkin masih mendengarkan S.E.S atau H.O.T. Astaga… bagaimana mungkin aku lupa kalau kita hidup di generasi berbeda dengan selera musik yang berbeda juga.”
Brak
“Aww!” aku menjerit. Tubuhku serasa terhempas sangat kencang saat Hyung Jun tiba-tiba menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
Hyung Jun diam, aku juga diam karena masih dalam keadaan syok. Aku melihat wajah Hyung Jun yang agak berubah. “Kau! Apa maksud perkataanmu barusan! Apa kau baru saja mengataiku?”
“Hah? Ya?” Aku tidak bisa bicara. Tidak tahu harus berkata apa. Sial, sepertinya aku baru saja membuat pria itu marah.
“Kau bicara seakan-akan aku jauh lebih tua darimu. Be realistic, Park Ga Young, I’m just ten years older than you. Bisakah kau berhenti bersikap berlebihan?”
Apa aku berlebihan?
Adalah pertanyaan pertama yang muncul di kepalaku. Oh, baiklah. Begini, dengarkan aku. Mungkin sepuluh tahun itu buhan jarak yang jauh. Banyak pasangan dengan perbedaan umur lebih dari itu. Tapi bagiku, bagi Ga Young yang tidak pernah berpikir atau membayangkan untuk hidup dengan suami yang usianya jauh lebih tua, hal ini tentu menjadi persoalan. Seumur hidupku, aku tidak pernah menaruh hatiku pada laki-laki yang berusia jauh lebih tua. Dan fakta tentang aku harus menikah dengan Kim Hyung Jun, tentu memberatkanku.
Aku tersadar dari my deep thoughts saat kurasakan sesuatu yang lembab menyentuh permukaan bibirku.
Oh, Shit. Is he freakin’ kissing me?
My first kiss.
What the…
“Ya!” setelah berhasil mendorongnya, aku berteriak tidak terima. “Dasar pria mesum!” lanjutku dengan suara yang sangat kencang.
Hyung Jun berdecak. “Itu bukan mesum. Itu adalah cara bagaimana membedakan antara a man and a boy. See?”
Aku melipat tanganku di depan dada. “Oh… Jadi begitu cara seorang pria melampiaskan perasaannya? Hah…” aku tertawa sarkastis. “Sudah berapa gadis yang kau perlakukan seperti ini, Hyung Jun Ahjussi?”
“Ya! Neo!” Hyung Jun berseru tidak kalah nyaring dariku. Kemudian dia mengambil napas dan berkata, “Lihat saja. Kau akan menderita sepanjang hidupmu, Park Ga Young.”
*****
Joy berhenti mengunyah dalam satu detik. Mulutnya terjatuh sampai-sampai aku dapat melihat burger yang belum dia telan. “Jangan menunjukkan ekspresi itu padaku.”
Lalu Joy mengedipkan matanya berkali-kali, menggelengkan kepala, seakan baru saja tersadar dari lamunannya. Joy meletakkan potongan burger yang sedang Ia makan ke atas piring. “Kau tidak salah? Sabtu ini?” tanyanya memastikan.
“Hm..” aku hanya bergumam, asik menikmati jus jeruk yang kupesan. “Tapi jangan katakan pada siapapun. Kau adalah satu-satunya orang yang tahu akan hal ini.”
“Ya! Kenapa aku harus menyebarkannya. Memangnya siapa yang peduli kalau kau akan menikah.” suara Joy yang nyaring berhasil menyedot perhatian seluruh pengunjung kantin. Sadar akan hal itu, Joy segera membekap mulutnya sendiri.
“Ya!” aku memukul pelan lengan gadis itu.
Joy melihat sekelilingnya. Puluhan pasang mata itu sedang menatap kami dengan tatapan mematikan mereka. Ini aneh, tentu saja. Karena selama tiga tahun bersekolah di sini kami tidak pernah mendapat perhatian. “Ya, ya… Tentu saja tidak akan ada yang peduli. Saat kau menikah, kita semua akan hidup di belahan bumi yang berbeda. Mungkin juga sudah ada yang melupakanmu.” Joy mengakhiri kalimatnya sambil tesenyum kikuk. Sepersekian detik berikutnya, siswa-siswi itu kembali pada aktivitas mereka. Aku dan Joy menghela napas lega.
Aku memukul lengan Joy lagi. “Ya! Kecilkan volume suaramu lain kali.” ucapku.
Joy memasang wajah memelas. “Maaf…”
Aku mendesus sebal. Joy memang punya masalah dengan volume suaranya yang begitu besar. Terkadang hal semacam itu membuatku terganggu juga.
“Hey, katakan padaku bagaimana calon suamimu.” Joy berkata seraya mencolek tanganku genit. “Ayolah… Aku sangat penasaran.”
Aku berpikir sejenak, lalu memperbaiki posisi dudukku. Aku memajukan wajahku agar lebih dekat pada Joy sehingga suaraku tidak tersengar orang lain. “Dia… Wajahnya sangat tampan, Ayah dan Ibunya punya sebuah perusahaan penyalur alat berat. Saat bicara, suaranya terdengar merdu dan ramah.” aku sengaja melebih-lebihkan pendapatku tentang Hyung Jun pada Joy.
Dan tentu saja, sesuai tebakanku, gadis itu terlihat sangat tertarik. “Benarkah? Kalau begitu minta dia menikahimu besok, jangan minggu depan.”
Buk.
“Aww!” Joy meringis kesakitan sambil mengusap kepalanya. Baru saja aku mendaratkan sebuah jitakan di sana.
“Aku belum selesai bicara.” lanjutku. Aku menarik napas, “Meskipun begitu, ada sesuatu yang tidak bisa aku terima darinya.”
“Mwoya?” dari eskspresi yang dia tunjukkan, Joy is curious, I can tell.
“Dia…” wajah Joy semakin tegang. “Sepuluh tahun lebih tua dariku.”
Satu. Dua. Tiga detik setelah kalimatku berakhir, namun Joy tidak kunjung memberikan tanggapannya. Wajahnya masih sama seperti saat dia bertanya apa yang membuatku tidak menyukai Hyung Jun tadi.
“Ckckck,” Joy menggeleng. “Aku pikir karena dia menciummu di hari pertama kalian bertemu.”
Eh?
Kenapa Joy bisa menebaknya?
Argh! That brat! Aku naik darah setiap kali mengingat peristiwa itu. Hyung Jun itu, mencuri ciuman pertamaku. Ciuman pertama which I expected to be Sehun’s.
Joy kembali mengambil burgernya. “Dia hanya sepuluh tahun lebih tua darimu, berhentilah bersikap seakan-akan kau akan menikahi seorang paman.” ujarnya santai kemudian memasukkan sisa potongan burger yang tidak seberapa itu ke dalam mulutnya.
Joy menghisap jus alpukatnya. “Lagian bukan kah itu sangat manis? Seperti dalam drama, kau akan menikah dengan seseorang yang tidak kau kenal. Lalu setelah menjalani kehidupan dengannya perasaan itu mulai tumbuh. Oh, tidak. Kau harus berhati-hati karena mantan kekasihnya bisa saja hadir dan merusak hubungan kalian. Ya! Park Ga Young! Jika aku adalah dirimu maka aku akan menerima pernikahan ini dengan senang hati. However, age doesn’t matter in love. Aku saja tidak masalah jika harus menikah dengan Jo In Sung.” aku hanya bisa diam. Apa Joy baru saja menirukan gaya bicara Guru Lee?
Joy adalah penggila drama. Dia bisa menceritakan sinopsis drama yang dia tonton hanya dengan satu helaan napas. Bahkan dengan hanya melihat teasernya saja, Joy bisa menebak bagaimana jalan cerita dan akan berakhir seperti apa drama tersebut. And well, Jo In Sung is one of her favorite actors.
“Joy…” aku memanggil namanya dengan suara yang hampir tidak terdengar.
Joy masih sibuk membuka bungkus burger ke-duanya. She eats a lot but doesn’t gain weight. “Hm?” Joy hanya menanggapiku dengan bergumam.
“Apa setiap drama selalu berakhir bahagia?”
*****
Perlu waktu sepuluh menit dengan berjalan kaki menuju halte bus terdekat dari rumahku. Yap! Aku pergi dan pulang sekolah menggunakan bus. Tidak. Terkadang saat hang out pun aku juga menggunakannya. Berhubung di rumahku hanya ada satu mobil, dan aku belum mempunya surat ijin mengemudi.
Oh iya, jangan salah paham dulu terhadapku. Aku tidak sekaya yang kalian pikirkan. Perusahaan yang disebut-sebut Ibu, itu hanya perusahaan kecil yang bergerak di bidang jasa antar barang. Itu sebabnya kami hidup sederhana.
Dan sekarang aku sedang dalam perjalanan pulang. Setelah turun di halte bus, aku harus berjalan melewati komplek pertokoan sebelum akhirnya berbelok di ujung jalan. Saat melangkahkan kaki di depan toko yang berjajar, aku mendengar suara seseorang.
Aku menoleh untuk memastikan: kusipitkan mataku agar dapat melihat lebih jelas. “Kak Lee Joon?” gumamku.
Iya! Itu pasti Kak Lee Joon! Oh, jadi dia masih bekerja di toko roti itu!
Tunggu.
Tidakkah kau pikir Hyomin ada bersamanya?
“Ya! Lee Joon oppa!” Aku berseru. Lee Joon yang sedang menutup toko menoleh padaku.
Aku melambaikan tangan, kulihat wajah Lee Joon yang tiba-tiba berubah. “Lee Joon oppa!” seruku lagi.
Hanya dalam satu kedipan, Lee Joon melesat pergi. Aku tidak tahu apa yang membuatnya seperti itu, tapi dia terlihat ketakutan. “Hey, kau mau kemana?! Kak! Tunggu aku!” tanpa ragu aku ikut berlari di belakangnya.
Lee Joon berlari sangat cepat, aku hampir kehilangannya saat dia berbelok ke sebuah gang sempit. Tapi aku tetap mengejarnya, dia benar-benar berhutang sebuah penjelasan kepadaku.
Kenapa dia berlari saat melihatku?
Apa yang dia coba sembunyikan.
DIMANA GADIS PIRANG ITU, HYOMIN!
Baik. Hyomin memang agak keras kepala. Dia senang melakukan hal-hal aneh, kadang juga membuat Ayah dan Ibu marah padanya. Tapi kami tetap saling menyayangi. Sikap yang dimiliki Hyomin justru kami anggap sebagai pelengkap, sehingga saat gadis itu tak ada di rumah, rumah kami seperti mati.
Hyomin sudah menjalin hubungan dengan Lee Joon sejak tiga tahun yang lalu. Ibu juga sudah mengenal Lee Joon. Oleh sebab itu, Ibu sangat sedih saat harus mengatakan pada Lee Joon bahwa Hyomin sudah dijodohkan. Tapi mau bagaimana lagi, tanpa bantuan Keluarga Kim perusahaan Ibu tidak berarti apapun.
“Ya! Lee Joon oppa, kau mau kemana?!” gang kecil itu berakhir dan membawaku ke sisi lain Gwanghwamun. Di antara kerumunan orang Lee Joon terus membawa langkahnya, sedang aku mengekor di belakang.
“Aku harus bicara padamu! Ya! Apa kau tidak lelah?” aku berteriak lagi. Benar-benar lelah mengejar Lee Joon. Langkahnya sungguh besar-besar. Hah… Kakiku rasanya hampir putus. Oh, atau aku telah meninggalkannya di pertigaan tadi? Entahlah… Aku sudah tidak sanggup.
“Hah…”
Buk.
Sesaat setelah aku menghela napas dan menghentikan napas, terdengar suara aneh. Aku menoleh dan mendapati sebuah mobil di depanku. Oh, mungkin suara aneh itu berasal dari mobil ini yang berhenti mendadak.
Apa?
Berhenti mendadak?
“Mwo?” aku mengedarkan pandanganku ke sekitar. Sial. Kuumpat dalam hati. Aku berada di tengah-tengah perempatan. Lalu lintas sekitar mendadak kacau gara-gara diriku. Aku menggigit bibir bawahku, wajahku memanas seketika.
Aku membungkuk pada orang-orang yang sekarang tengah menatap jengkel ke arahku. “Tolong maafkan saya.” kataku pelan.
Butuh beberapa detik sebelum akhirnya kendaraan dan orang-orang di sana kembali pada aktivitas mereka, kecuali mobil hitam di depanku. Mobil itu tidak bergerak sedikitpun, yang ada hanya pintunya yang mulai terbuka.
“Kau!” seruku saat aku melihat orang yang menuruni mobil itu. “Apa yang kau lakukan di sini? Apa kau mengikutiku?”
Hyung Jun menghembuskan napas saat mendengar ocehanku. “Harusnya aku yang bertanya padamu. Apa yang lakukan di sini? Apa kau ingin mati?”
“Hah?” aku melongo. Astaga apa aku terlihat begitu depresi?
“Cepat masuk!” Hyung Jun mengisyaratkanku agar masuk ke mobilnya.
Meski pada awalnya aku menolak, toh aku masuk juga. Lumayan untuk menghemat tenaga karena dari sini aku perlu berjalan cukup jauh untuk sampai di rumah.
*****
Hal pertama yang aku lakukan setelah menuruni altar adalah menghampiri Joy dan menjitak kepalanya. Gadis ceroboh itu, kemarin malam dia mengunggah foto undangan pernikahanku ke akun sosialnya. Great! Beruntung akun sosial itu adalah akun rahasia dimana tak seorang pun mengenalnya. Setelah aku melihat postingan milik Joy aku segera menghubunginya dan menyuruhnya menghapus postingan tersebut. “Aku bersumpah akan menjambak rambutmu, Joy!” begitulah kiranya ancaman yang aku berikan pada gadis berambut setengah hijau itu.
Banyak orang yang berhadir di pernikahanku. Namun sayangnya tak seorang pun yang aku kenal, aku hanya dapat memasang senyum pada mereka, berakting seolah-olah aku adalah gadis paling bahagia di dunia.
“Ya! Kak Hyung Jun ganteng kok, kenapa kau tidak suka padanya?” bisik Joy saat seorang tamu baru saja pergi menjauh dari kami.
Aku melirik pada Joy, “Sudah aku bilang dia tua.” jawabku seadanya. “Lagipula aku sudah punya tambatan hati.”
Joy merengut, “Park Ga Young, berhentilah bermimpi. Sehun tidak mungkin suka pada gadis sepertimu. Kau dengar aku?” Joy mengalihkan pandangannya pada Hyung Jun yang sedang berbincang dengan tamu-tamunya. “Isn’t that tiring to love someone who doesn’t even know you for years? Lihatlah, Hyung Jun hampir sempurna, bahkan lebih baik daripada Sehun.”
Oh, baiklah, Joy memang benar. Hyung Jun punya segalanya. Dan sebagai seorang gadis, aku suka cara bagaimana dia bersikap. Memang tidak terlalu manis. Tapi setidaknya dia mencoba menjadi diri sendiri.
“Dan satu lagi,” Joy melanjutkan. Aku langsung menoleh padanya memasang wajah ingin tahu. “Cincin yang di jarimu. Itu bukan hanya sekedar cincin. Itu sebagai tanda bahwa kau sudah menjadi milik Kak Hyung Jun, there’s no way you could love someone else.”
Deg.
Rupanya Joy banyak belajar dari drama yang dia tonton. Joy yang terkadang bicara sesuka hatinya, dia benar. Aku tidak bisa berbuat apapun tentang Sehun. Menikah atau tidak menikah, Sehun tetap tidak akan menjadi milikku.
“Ga Young, menurut drama yang aku tonton, dua orang yang mencintai satu sama lain dalam waktu yang bersamaan itu keajaiban. Yang harus kau lakukan sekarang adalah membuat keajaiban itu datang padamu.” Aku tidak pernah melihat wajah Joy seperti itu. She meant it. Dia tidak bercanda atau berbohong padaku. Dia sungguh ingin aku bahagia, tanpa harus meneteskan air mata demi menangisi Sehun.
Joy meletakkan telapak tangannya di pundakku, “Na ganda. (Aku pergi dulu.)” ucapnya sebelum melenggang pergi.
Resepsi pernikahan selesai digelar sekitar pukul sebelas malam. Tanpa menunggu lama, aku dan Hyung Jun segera meninggalkan tempat acara menggunakan mobil pribadi. Ya, aku sangat lelah dan ingin cepat-cepat menjatuhkan tubuhku di atas matras.
Butuh sekitar lima belas menit untuk sampai di apartemen yang dihadiahkan Tuan Kim pada Hyung Jun. Apartemennya berada di lantai tujuh belas sebuah komplek apartemen mewah. Saat aku memasukinya, aroma parfum Hyung Jun adalah yang pertama kali aku indera. “Kau tinggal di sini? Bukankah bersama orang tuamu?”
Hyung Jun yang sedang menyalakan lampu ruangan menoleh padaku, “Kantorku hanya lima menit dari sini, jadi jika lelah aku sering kemari.”
Aku mengangguk paham lalu mengedarkan pandanganku di sekitar apartemen. Bagus. Perabotan tersusun rapih, tidak ada barang yang tidak terletak pada tempatnya. Wajar sih, Hyung Jun bilang dia kemari hanya untuk beristirahat di sela-sela pekerjaannya.
Hyung Jun melempar jasnya ke atas sofa di ruang keluarga. Dia membuka sebuah pintu di sisi kiri. “Ini kamarmu.” katanya, lalu dia mengalihkan pandangan ke arah lain, “dan itu kamarku.”
Eh?
Aku tidak memberikan reaksi apapun, sampai Hyung Jun kembali membuka mulutnya. “Kenapa? Kau ingin tidur denganku?” tanyanya tanpa disertai keraguan sedikitpun. Geez. Penuh percaya diri.
“Ne?” aku tersadar dari pikiran kalutku. “Ti-tidak. Kenapa aku harus.”
Aku mencoba membuang muka. Ekor mataku menangkap sosok Hyung Jun yang tesenyum. Aku menatapnya curiga. Dia berjalan pelan ke arahku kemudian tangannya bergerak mengacak-acak rambutku. “Lucu.” gumamnya singkat.
Setelah melangkah, Hyung Jun menghilang di balik pintu kamarnya.
*****
Hyung Jun’s POV
Hari pertama setelah pernikahan. Tidak buruk. Oke, sebenarnya tidak ada perubahan dalam hidupku. Semuanya kulakukan sendiri sama seperti sebelumnya. Oh! Bahkan sekarang tanggunganku bertambah satu. Selain harus menyiapkan sarapan untukku sendiri, aku juga harus menyiapkan satu untuk gadis itu. Sigh. Sebenarnya aku sudah memikirkan hal ini dari jauh-jauh hari, berhubung Ga Young tidak bisa melakukan apa-apa.
Tapi tidak masalah. Toh, sudah sejak lama aku ingin memiliki adik perempuan. Aku pikir mungkin mengasyikkan jika bisa menggodanya setiap hari, dan membuatnya merengek. Hehehe. Aku jadi tertawa sendiri saat membayangkan kehidupanku bersama Ga Young, mungkin kami lebih seperti kakak dan adik ketimbang suami-istri.
Bruk.
Tedengar suara pintu yang dibuka dengan kasar. Aku dapat menebak kalau itu adalah Ga Young yang keluar dari kamarnya terbirit-birit.
Aku tertawa dalam diam. Aku tahu kalau hari ini liburannya berakhir dan aku tidak membangunkannya seperti yang Ibu Park suruh. “Kau sudah bangun?” tanyaku dengan nada datar sambil menyendok omelet di piring.
Ga Young membetulkan posisi tasnya dan mengambil susu yang terletak di atas meja. Susu itu memang sengaja aku siapkan untuk Ga Young. “Hm..” gumamnya lalu ditenggaknya susu itu sampai habis. “Dan sekarang aku terlambat sekolah. Thanks to you, ahjussi.” Wajah Ga Young merah padam. Aku yakin kalau dia bahkan tidak menyisir rambutnya setelah mandi tadi. Ckckck. Dasar ceroboh. Dia kan sudah bukan anak kecil. Kalau terus bergantung pada orang lain, dia tidak akan bisa hidup mandiri nantinya.
Setelah menyelesaikan kalimatnya Ga Young bergegas meninggalkan meja makan. Langkahnya yang terburu menimbulkan bunyi dari lantai. Kemudian bunyi itu berhenti, kutebak, tepat di depan pintu utama.
Aku sudah menyelesaikan sarapanku. Kuambil jas dan tas kerjaku yang sudah ada di sofa ruang tengah dan menyusul Ga Young yang masih mematung di depan pintu. “Kalau kau lupa, halte bisnya tiga kilometer dari sini.” kataku sekenanya.
Dan aku bersumpah sangat ingin menertawakannya di depan wajahnya. Hahaha. Dia tidak punya pilihan selain ikut bersamaku.
Saat aku membuka pintu, Ga Young masih diam. “Hey..” seruku mencoba menyadarkannya. Napas Ga Young memburu, dia…memberiku tatapan paling mematikan sedunia.
Aku tahu bahwa saat Ga Young pulang sekolah nanti I won’t be home yet, Aku menyuruhnya untuk menyusulku ke kantor. Lagipula, menurut Ibu Park, Ga Young itu spesies paling penakut di Seoul, mana mungkin dia berani menungguku di apartemen sendirian. Secara kebetulan, halte yang berjarak tiga kilometer dari apartemen juga berdekatan dengan kantorku jadi Ga Young hanya butuh mengambil bis dari sekolahnya ke kantorku.
Tok tok tok.
Aku mendengar ketukan dari pintu kantorku, aku berseru mempersilakan orang di luar sana untuk masuk.
Pintu terbuka dan seperti tebakanku, gadis itu muncul di balik pintu. Dia berjalan ke arahku sambil membawa tumpukan berkas di tangannya. “Laporan yang Anda minta, Direktur Kim.”
Aku menggelengkan kepalaku karena akhirnya tersadar. “Ah,” ujarku kikuk. “Letakkan di sana saja.” Aku menunjuk sebuah meja tamu yang ada di salah satu sudut ruangan. Gadis itu menganggukkan kepalanya sedikit kemudian melakukan apa yang aku perintahkan.
“Saya pikir Anda akan mengambil cuti untuk-”
“Dia sekolah.” kataku cepat-cepat seakan dapat membaca pikirannya.
Gadis itu mengangguk lagi. “Kalau begitu selamat atas pernikahan Anda. Saya tidak dapat berhadir karena ada pekerjaan yang harus saya selesaikan.” katanya lagi.
“Hah. Gwenchanayo.”
“Saya harus kembali. Saya akan mengambil laporannya satu jam lagi.” dia membungkukkan tubuhnya tanda hormat dan pamit.
Tepat sebelum gadis itu membuka pintu aku memanggil namanya, “Gyuri-ssi.” sambil berdiri.
Gyuri menoleh, “Ne?”
“Maafkan aku.”
*****
Aku baru kembali dari toilet ketika mendapati Ga Young sudah duduk santai di kursi kerjaku. Aku hampir terjengkal karena dia begitu mengagetkan. “Oh? Ahjussi!” katanya bersemangat.
Ga Young berdiri dan menyusulku lalu memegang lenganku. “Kau kemana saja? Aku sangat lapar, ahjussi. Ayo pesankan aku ayam goreng.” rengeknya. Aku menatapnya bingung. Gadis ini… Baru saja tadi pagi dia memarahiku karena tidak membangunkannya dan membuat dia hampir terlambat sekolah. Sekarang malah melakukan aegyo dan memintaku untuk memesankannya ayam goreng.”
“Cepatlah, ahjussi. Sebelum aku mati kelaparan.” katanya lagi, masih dengan nada manja.
Aku kemudian menghubungi sebuah rumah makan untuk memesankan sekotak ayam goreng untuk Ga Young. Rumah makan itu sebenarnya tidak berjarak begitu jauh dari kantorku. Tapi kebetulan aku sedang malas untuk keluar jadi aku suruh saja mereka mengantarkan kemari.
Ga Young sangat menyukai ayam goreng, kata IbU Park. Dia bisa menghabiskan satu kotak ayam goreng sendirian. Sigh… Aku heran kenapa tubuhnya tetap kurus seperti ini.
Dengan melihat Ga Young memakannya saja aku sudah kenyang. Ga Young makan dengan lahap, seakan-akan dia akan menghabiskan ayam goreng itu dalam satu suapan.
“Hm..” Aku mendongak saat Ga Young menyodorkan sebuah kantong plastik kecil ke arahku.
Aku tidak menyahut tapi hanya memberinya tatapan -apa-.
“Saus lada hitam. Aku tidak bisa membukanya, tanganku licin. Tolong…” lagi-lagi dia memintaku dengan nada manja.
Aku mengambil kantong itu dari tangannya. “Ck,” aku berdecak. Ga Young tersenyum puas.
Saat aku mencoba membukanya, tanpa sengaja saus lada hitam itu tumpah dan aku tidak tahu bagaimana dan mengapa bisa mengenai mataku.
“Argh!” Aku mengerang. Aku tidak bisa membuka mataku karena mataku terasa sangat pedih. Aku mendengar suara Ga Young yang ikut panik. Kurasakan pegangan Ga Young di lenganku.
“Singkirkan tanganmu!”
“Jangan digosok akan tambah pedih!”
“Ya! Kim Hyung Jun!”
*****
Author’s POV
“Singkirkan tanganmu!”
“Jangan digosok akan tambah pedih!”
“Ya! Kim Hyung Jun!”
Para karyawan itu bergerombol di depan ruangan Direktur Kim. Mereka mulai menguping sejak mendengar teriakan Hyung Jun dari dalam ruangannya. Di antara karyawan itu ada yang berbisik membincangkan hal-hal tidak berdasar. Ckckck. Bukankah seharusnya mereka menyelesaikan pekerjaan mereka?
“Ah…”
Salah seorang karyawan tiba-tiba sesak napas karena dari dalam ruangan Hyung Jun baru saja terdengar suara yang…eum…seperti desahan. Tapi, hey, bukan berarti Direktur Kim dan Ga Young sedang melakukan sesuatu yang bukan-bukan di dalam sana.
“Apa yang sedang kalian lakukan?” suara seorang gadis membubarkan gerombolan karyawan itu. Dalam hitungan detik mereka sudah kembali pada pekerjaan mereka masing-masing. Ada yang sibuk dengan komputernya, ada yang sibuk dengan mesin fotokopi, dan lain-lain.
Gyuri melihat sekeliling. Setelah menghembuskan napas panjang dia berjalan mendekati pintu ruangan Direktur Kim. “Nona Ga Young sedang berada di dalam.” celetuk seorang karyawan wanita. Gyuri menoleh. Dia tahu itu barusan adalah sindiran untuknya. Well… Sudah menjadi rahasia umum bahwa Gyuri adalah mantan kekasih Hyung Jun.
“Bajuku jadi kotor akibat ulahmu.”
“Maaf…”
Gyuri mendengar percakapan singkat dari dalam ruangan. Tapi dia berusaha tegar, pelan-pelan dibukanya pintu ruangan Direktur Kim.
Gyuri membelalakkan matanya. “Ehem.” dia berdeham saat melihat Hyung Jun dan Ga Young berciuman.
Oh, sebenarnya bukan sedang berciuman. Ga Young hanya sedang berusaha membantu Hyung Jun dengan meniup matanya. Namun posisi mereka yang… tidak tepat? Ya, tidak tepat, membuatnya terlihat seakan-akan mereka sedang berciuman.
Ga Young dan Hyung Jun gelagapan. Mereka cepat-cepat membetulkan posisi mereka. Oh, Hyung Jun bahkan lebih parah. Dia sangat gugup. Aku dapat melihat rasa gugup itu dari matanya.
“Maaf, saya seharusnya mengetuk pintu terlebih dulu.” ucap Gyuri, mencoba mengalihkan pandangannya agar tidak bertemu Hyung Jun.
“Tidak. Tidak apa-apa.” sahut Hyung Jun.
“Jika Anda sudah menandatangani laporannya, Saya akan membawanya pergi.” Gyuri masih enggan menatap Hyung Jun, namun hal itu malah membawa pandangannya pada blazer sekolah Ga Young yang tersampir di sofa. Saat menyadari akan hal itu, Gyuri malah mengamati Ga Young dan Hyung Jun.
Oops. Dasi Hyung Jun yang tak lagi ada di lehernya dan kancing atas kemeja Hyung Jun yang tidak dipasang justru menambah kesan mesum pada pasangan pengantin baru itu. Meski yakin mereka tak melakukan apa-apa, ada sedikit rasa cemburu di hati Gyuri.
Setelah tumpukan kertas dan dokumen itu beralih ke tangannya Gyuri bergegas undur diri. “Silakan lanjutkan kegiatan Anda.” katanya sebelum menutup pintu.
Hyung Jun dan Ga Young bertanya-tanya apa yang dimaksud Gyuri.
*** To Be Continued ***
So readers, yay or nay for this fanfic? Shout out your opinion! ^o^
Filed under: Drama, Marriage Life, school life Tagged: Kim Hyung Jun, oh sehun