2016-08-29

MEN_SUPERNOVA wrote:

Pertanyaan: “Apa itu waktu?”,kurang lebih seperti pertanyaan: “Apa itu cinta?”.

karena ia adalah sesuatu yang semua orang bisa merasakannya atau "merasakan tahu" tapi tidak ada yang dapat memberikan definisi dengan tepat atasnya.
Hal ini spt yg dinyatakan oleh St. Augustine dalam Confessions.
Ia bertanya, “Apa itu waktu?” Ketika tidak ada yang bertanya kepadanya, ia mengetahui; ketika seseorang bertanya kepadanya, ia tidak mengetahuinya.

Artinya,
Belum ada yg bisa menjelaskan tentang “waktu” secara final

adanya perbedaan pendapat tentang "waktu", bukan berarti "waktu" tidak dpt dimengerti sama sekali.

contoh:
anda banyak berbicara tentang "durasi". durasi adalah salah satu definisi dr "waktu" yg paling sederhana. ketika anda bicara durasi, seseorg tahu apa yg anda maksudkan, atau dgn kata lain "durasi' dpt dimengerti / diketahui.

MEN_SUPERNOVA wrote:

Pertama-tama secara biblical terlebih dahulu, dibawah ini ayat2 yg menyatakan bahwa waktu memiliki permulaan. perhatikan yg saya bold.
New International Version

2 Tim 1:9
He has saved us and called us to a holy life--not because of anything we have done but because of his own purpose and grace. This grace was given us in Christ Jesus before the beginning of time,

Tdk semua versi inggris menterjemahkannya sebagai “beginning of time”
Ada juga yg menterjemahkannya dgn : “befor the world began”.
LAI menterjemahkan : Sebelum permulaan Jaman (bukan waktu)

tdk semua memahami bhw “pada mulanya” pada kejadian 1:1 adalah awal mula waktu, namun banyak yg memaknainya sebagai "saat pertama kali Alah mulai mencipta"

argumentasi diatas tidak menggugurkan argumentasi saya ,sebaliknya justru mendukung argumentasi saya. coba baca lagi penjelasan saya tentang "waktu" berdasarkan "science", atau saya kutip saja sekali lg disini:

"Huruf E di dlm S.U.R.G.E. adalah Einstein. Teorinya mengenai relativitas umum merupakan poin kelima dlm bukti ilmiah yg menyatakan bahwa alam semesta memiliki awal, dan penemuan ini merupakan awal dari berakhirnya ide bahwa alam semesta bersifat kekal. Teori itu sendiri, yg telah ditetapkan sampai decimal kelima, memerlukan awal dari waktu, ruang dan materi. Teori ini menunjukkan bahwa waktu, ruang dan materi saling terkait. Mereka interdependen, anda tidak dapat memiliki salah satu tanpa yang lainnya."

perhatikan yg saya bold dan underline. dikatakan bahwa waktu, ruang dan materi saling terkait satu sama lainnya dan anda tidak dpt memiliki salah satunya tanpa yg lainnya.

artinya terjemahan “before the world began” dan "before the beginning of time" merujuk ke hal yg sama.

karena ketika "the world began" sama dgn "the beginning of time". itu sebabnya ada terjemahan yg menggunakan istilah "before the world began" dan ada terjemahan yg menggunakan istilah "before the beginning of time" namun keduanya sesungguhnya merujuk kpd hal yg sama. karena ketika ruang dan materi eksis maka disitu juga "waktu" eksis dan jika ruang dan materi belum eksis maka waktu juga belum eksis.

demikian pula dgn istilah "permulaan jaman", kata "jaman" berelasi dgn waktu.

ketika "waktu" eksis maka saat itulah "permulaan jaman"

kemudian, tidak ada masalah dgn tafsiran "pada mulanya" merujuk kpd "saat pertama kali Alah mulai mencipta". krn memang lebih tepatnya "waktu" eksis ketika ciptaan pertama eksis.

Spt yg sudah saya jelaskan sebelumnya bahwa ketika manusia menjelaskan suatu hal manusia terbiasa menggunakan urutan(proses waktu) shg istilah2 yg digunakan di dalam bahasa berelasi dgn proses waktu. jadi istilah "pada mulanya" pd genesis 1:1 bisa spt yg anda katakan bahwa istilah tsb merujuk kpd "saat pertama kali Alah mulai mencipta".

namun istilah tsb juga bukan terlepas kaitannya dgn ciptaan pertama Allah tsb, maka digunakan istilah "pada mulanya". ini yg membedakan dng penciptaan berikutnya. krn penciptaan berikutnya "waktu" sudah eksis dan bukan permulaan lg.

jd kalo anda mau menafsirkan "pd mulanya" merujuk kpd "saat pertama kali Alah mulai mencipta", saya pun tidak masalah. krn waktu "eksis" ketika ciptaan pertama di kej 1:1.

namun sekali lagi istilah tsb juga bisa terkait dgn ciptaan pertama tsb, dimana permulaan waktu eksis.
semoga bung wfilehas62 paham maksud saya

MEN_SUPERNOVA wrote:

note: utk point ketiga ini sekedar info. krn sedang membahas tentang waktu , maka dlm hal ini yaitu dlm bidang ilmiah pun membuktikan bahwa waktu memiliki permulaan. hanya point ini yg ingin saya tekankan pd penjelasan diatas.

jadi kesimpulannya, apakah penciptaan waktu menggugurkan iman Kristiani?? jawabannya tidak, sebaliknya meneguhkannya. justru sekarang para ateis sedang berusaha membuat teori2 yg menyatakan waktu tidak memiliki permulaan utk membuktikan "tidak ada penciptaan" karena mereka ingin membuang Tuhan.

Adanya tidaknya permulaan waktu tdk serta merta mengakibatkan ada/ tdk adanya Allah dan ada/ tdk adanya penciptaan.
Namun jika ada penciptaan yg tdk tercatat dlm alkitab, akan memunculkan banyak kemungkinan bhw ada penciptaan yg tdk tercatat dlm alkitab.
Dan yg jelas dari semua yg anda utarakan, terlihat belum ada pengertian yg bersifat final ttg waktu, baik dari sisi alkitab mapun sains.

baca lg penjelasan saya diatas, baik sisi Alkitab maupun sains membuktikan bahwa waktu memiliki permulaan.
dan jelas ada hubungan antara "Adanya tidaknya permulaan waktu" dng tdk adanya penciptaan.(baca lagi penjelasan secara sains bahwa ruang , materi dan waktu saling terkait).

artinya ketika waktu tidak memiliki permulaan , maka demikian pula dgn ruang dan materi tidak memiliki permulaan. atau dgn kata lain tidak ada penciptaan. krn penciptaan adalah dr tiada menjadi ada (eksis), dan setiap ciptaan memiliki permulaan. artinya jika ruang dan materi tidak memiliki permulaan berarti ruang dan materi tidak dicipta.

inilah yg diinginkan oleh para atheist, krn jika tidak ada penciptaan maka mereka dpt membuang Allah sbg Sang Pencipta.
sudah paham??

kedua, saya tanya anda dimana kejadian pasal 1 mencatat penciptaan malaikat??

MEN_SUPERNOVA wrote:

coba bung wilefhas62 baca lagi jawaban saya diatas, bukankah diatas sudah saya jawab bahwa sebelum dunia diciptakan itu berarti segala sesuatu belum eksis, termasuk "waktu".

Apa sebenarnya yg diciptakan oleh Allah apada saat menciptakan langit dan bumi?
Apakah materi saja (padat, cair dan gas)?
Atw apakah Allah lebih dulu menciptakan Ruang Kosong dan waktu, lalu menciptakan Materi?
Atw kekosongan itu sdh ada sejak kekekalan?
Jika mengikuti logika bro, maka kekosongan dan juga waktu diciptakan sebelum menciptakan materi.
Apakah demikian?

sekali lg, ruang, waktu dan materi diciptakan secara bersamaan krn ketiganya saling terkait. salah satu tidak bisa ada tanpa yg lainnya. baca penjelasan diatas. jd pemahaman anda atas penjelasan saya masih keliru.

MEN_SUPERNOVA wrote:

jika saya katakan "waktu" belum eksis, lalu kenapa anda malah nanya berdasarkan "waktu"?? ini namanya pertanyaan anda tidak nyambung dgn jawaban saya tsb.

jika waktu belum ada, bagaimana anda tetap yakin bhw suatu peristiwa lebih dulu terjadi dari peristiwa lainnya?
Ini yg membuat saya bingung.

peristiwa apa yg anda maksud??
sptnya ada misunderstanding disini. sekali lagi saya jelaskan ketika saya bicara waktu belum eksis, maka itu ketika "sebelum penciptaan", dimana hanya ada Allah yg kekal.

jika anda bicara tentang peristiwa di dalam sejarah, ya tentu waktu sudah eksis krn waktu eksis ketika penciptaan pertama. dan apa yg saya jelaskan diatas, saya bicara sebelum penciptaan waktu blm eksis.

bukankah ini sudah saya jelaskan berulang2, coba dibaca lagi penjelasan saya dr awal. ketika anda bertanya ,coba lihat saya tanggapi spt apa? kemudian dipahami terlebih dahulu maksud saya sebelum bertanya lebih lanjut.
krn sptnya saya tanggapi A, anda bicara B.

MEN_SUPERNOVA wrote:

kedua, Allah mencipta bukan karena iseng2, tetapi Allah memiliki tujuan. dan rencana-Nya tsb berhubungan dgn tujuan tsb. mengapa rencana-Nya di luar waktu?? karena sebelum penciptaan, waktu belum eksis. mengapa realiasasinya di dalam waktu?? karena rencana-Nya berhubungan dgn ciptaan-Nya yg berada di dalam waktu. dan waktu eksis pada saat penciptaan

Bagai mana anda mendefenisikan urutan dari suatu peristiwa jika waktu belum ada?
Bukankah itu berarti bhw urutan itu hanya ada dlm pikiran/ konsep saja?

Urutan peristiwa apa yg anda maksud??

MEN_SUPERNOVA wrote:

demikian sebaliknya ,saya juga merasa pemahaman anda aneh, bahwa "waktu" dan Allah sama2 kekal. artinya ada yg sama kekalnya selain Allah.

berarti Ruang Kosong tempat bumi dan langit ditempatkan juga tdk boleh doh sama kekalnya dgn ALLAH?
Artinya ruang kosong itu diciptakan juga ya?
Apa defenisi anda tentang “kekal”

loh memang iya, tdk ada sesuatu apapun yg sama kekalnya dgn Allah.
kekal sama dgn abadi , selama-lamanya. atau mungkin akan lebih mudah dimengerti lewat lawan katanya yaitu sementara , fana.

MEN_SUPERNOVA wrote:

yg pertama, sudah saya bahas diatas.

yg kedua mengenai durasi, juga sudah dijawab diatas bahwa sebelum penciptaan tidak ada waktu, jd kalo anda nanya durasi, tidak nyambung.

lebih tidak nyambung mana dibading mengatakan suatu peristiwa terjadi lebih dulu dari yg lain, padahal waktu belum eksis.
Karena urutan peristiwa membutuhkan durasi waktu.

sekali lg peristiwa mana yg anda maksud??
peristiwa terjadi di dalam sejarah, dimana waktu sudah eksis.

MEN_SUPERNOVA wrote:

yg pertama, ketika bicara kekekalan, yg bicara durasi waktu adalah anda dan bukan saya.

saya bicara waktu, bukan dlm konteks kekekalan, tapi daqlam konteks urutan suatu peristiwa.
Namun harus diingat, bhw kekekalan tdk menghapuskan adanya waktu.
Buktinya sekarang ada waktu, dan Allah tetap kekal.

nah disini justru terjadi misunderstanding, krn saya bicara tentang kekekalan sedangkan anda bicara peristiwa yg terjadi di dlm sejarah. padahal saya sudah jelaskan bahwa peristiwa yg terjd di dlm sejarah adalah wujud dr rencana-Nya yg kekal.

kedua, Allah tetap kekal krn Allah melampaui waktu / diluar waktu dan tidak dikurung di dalam waktu.

justru logika anda disini keliru dan kacau balau. anda mengatakan "kekekalan tdk menghapuskan adanya waktu", dgn pengertian bahwa dikekekalan waktu sudah eksis, dgn dasar bahwa sekarang ada waktu dan Allah tetap kekal.

utk menjelaskan hal ini saya, saya coba jelaskan lewat sebuah contoh walaupun secara detailnya mungkin tidak sama persis.
saya hidup di dunia nyata. kemudian saya menciptakan "dunia maya".

sekarang saya tanya, apakah setelah saya menciptakan "dunia maya" maka "dunia nyata" saya sama dgn "dunia maya" yg saya ciptakan?? jawabannya jelas tidak, karena "dunia nyata" saya ,diluar "dunia maya" yg saya ciptakan.

sekarang saya tanya lagi, sekarang ada dunia nyata dan dunia maya, apakah itu berarti dunia maya sudah eksis sebelum diciptakan?? jelas jawabannya tidak. jd mengambil kesimpulan bahwa dunia maya sudah eksis berdasarkan bahwa sekarang sudah eksis/ada dunia nyata dan dunia maya adalah kesimpulan yg keliru, krn adanya dunia nyata dan maya sekarang tidak membuktikan bahwa dunia maya sudah eksis sebelumnya.

kalo msh belum jelas juga dgn maksud saya, saya berikan contoh kedua.

buktinya sekarang anda dan saya ada dan Allah tetap kekal. apakah ini berarti anda dan saya sama kekalnya dgn Allah?? jawabannya jelas tidak.
sudah paham maksud saya??

MEN_SUPERNOVA wrote:

yg kedua, saya ksh contoh sbb:

menafsirkan hal ini bukan sekedar melihat dari kitab kejadian saja melainkan secara keseluruhan Alkitab secara integritas. jika bung wilefhas62 baca di ef 1:4-5 dikatakan sbb:

4 Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.
5 Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, ksesuai dengan kerelaan kehendak-Nya,

dari ayat diatas kita dpt melihat bahwa kita sudah dipilih dan dipredestinasikan sebelum dunia dijadikan. artinya sebelum penciptaan ,Allah memiliki rencana. dan jika anda baca ayat 9 sgt lebih jelas lagi, perhatikan yg saya bold.

9 Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus

10 sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi.

11 Aku katakan "di dalam Kristus," karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan — kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya

Mzm 33:11 tetapi rencana TUHAN tetap selama-lamanya, rancangan hati-Nya turun-temurun.

Yes 14:26 Itulah rancangan yang telah dibuat mengenai seluruh bumi, dan itulah tangan yang teracung terhadap segala bangsa.

Yes 25:1 Ya TUHAN, Engkaulah Allahku; aku mau meninggikan Engkau, mau menyanyikan syukur bagi nama-Mu; sebab dengan kesetiaan yang teguh Engkau telah melaksanakan rancangan-Mu yang ajaib yang telah ada sejak dahulu.

2Raja 19:25 - "Bukankah telah kaudengar, bahwa Aku telah menentukannya dari jauh hari, dan telah merancangnya pada zaman purbakala? Sekarang Aku mewujudkannya, bahwa engkau membuat sunyi senyap kota-kota yang berkubu menjadi timbunan batu".

Maz 139:16 - "mataMu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitabMu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya".

Jika anda perhatikan ayat2 di Alkitab yg menyatakan tentang rencana-Nya atau rancangan-Nya maka anda dpt melihat bahwa itu sudah dirancang sejak semula bahkan justru ditekankan mengenai hal tsb agar manusia tidak salah paham ,dgn memahami bahwa hal tsb baru dirancang Allah.
dan rencana-Nya tsb pasti tergenapi.

Dari semua Nats yg sangat banyak itu, tdk bisa disimpulkan bhw rencana itu dibuat sebelum ada waktu.
Sebaliknya bisa saja Nats itu ditafsirkan tdk secara literal (bahkan ini lebih mungkin karena Kej 1.1, seharusnya “pada mulanya” harus dijadikan sebagai patokan ttg apa yg dilakukan Allah pertama kali)
Ini baru sinkron

loh anda tidak baca, ef 1:4 Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.

perhatikan yg saya underline.

bahkan seandainya pun mau mengikuti penafsiran anda bahwa ayat2 diatas merujuk kpd kej 1:1,

tetap pada pointnya adalah rencana-Nya ada sebelum peristiwa2 tsb terjadi atau eksis.

sederhananya sbb: rasul Paulus mengatakan di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan.

jika anda menafsirkan ayat tsb merujuk kpd kej 1:1, intinya tetap adalah pemilihan Allah atas rasul paulus dan org2 percaya sudah ada sebelum mereka eksis.

sudah paham??

MEN_SUPERNOVA wrote:

spt yg dikatakan di dlm ul 29:29
Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini
artinya tidak segala sesuatu dinyatakan kpd kita. tetapi ada hal2 yg rahasia yg manusia tidak perlu tahu. ".

saya setuju, shg muncul pertanyaan
Kalau sesuatu itu di sembunyikan oleh Tuhan, dati mana kita bisa tahu ?

loh, yg namanya disembunyikan oleh Tuhan berarti supaya kita tidak bisa tahu.

kalo disembunyikan oleh Tuhan tetapi kita masih bisa tahu, itu artinya kita lebih berkuasa dari Tuhan.

apa yg bisa kita ketahui adalah berdasarkan apa yg sudah dinyatakan atau melalui prinsip2 yg sudah dinyatakan.

MEN_SUPERNOVA wrote:

kedua, penciptaan malaikat tidak ditulis secara eksplisit di dalam kitab kejadian, lalu apakah itu berarti kemungkinan adanya multiverse?? jawabannya saya, tidak.

teori multiverse tidak pernah bisa dibuktikan spt halnya teori evolusi.

tapi dgn membuka peluang bhw ada peristiwa penciptaan yg tdk tercatat dlm Alkitab, maka kita tdk bisa menolak adanya multiverse dgn berdasarkan Alkitab
tentang tdk bisa membuktikan, kita juga tgdk bisa membuktikan tdk adanya multiverse.

sekali lagi saya tanya, emangnya kej 1 mencatat penciptaan malaikat??

jawabannya jelas tidak dicatat, lalu kenapa anda bermasalah dng penciptaan waktu??

kedua, anda keliru bahwa kita tidak bisa membuktikan tidak adanya multiverse hanya krn ada peristiwa penciptaan yg tdk tercatat. Alkitab isinya bukan hanya kitab kejadian.

ketiga, sebenarnya kesimpulan anda diatas bahwa ada peristiwa penciptaan yg tidak tercatat pun keliru.

saya justru mengatakan bahwa peristiwa penciptaan waktu tercatat namun bukan secara eksplisit. krn spt yg saya jelaskan bahwa ruang ,materi dan waktu saling terkait, tidak ada yg satu tanpa yg lainnya. maka itu artinya kej 1:1 adalah pencatatan penciptaan waktu secara implisit.
pencatatan penciptaan tidak harus eksplisit satu persatu, apakah Alkitab harus menulis penciptaan logam, helium, hidrogen,dll. jawabannya jelas tidak perlu.

MEN_SUPERNOVA wrote:

pertama-tama, calvinist berargumentasi bukan tanpa dasar , melainkan berdasarkan prinsip2 yg diajarkan di dalam Alkitab.

Alkitab mengajarkan bahwa Allah MahaTahu dan Allah Tidak Berubah. maka berdasarkan prinsip2 ini saya menjelaskan spt pada postingan sebelumnya. ketika suatu argumentasi berkontradiksi dgn prinsip2 ini, maka argumentasi tsb keliru.
kedua, saya tanya anda, argumentasi bahwa ketetapan Allah berdasarkan Allah melihat terlebih dahulu, apakah hal tsb bukan prosedur yg dipikirkan oleh manusia?? (paham maksud saya disini?)

betul, saya paham.
Shg ketika mengajukan alternatif ini, saya tdk konsisten.
Namun tujuan saya hanya ingin menunjukkan bhw banyak alternatif ttg cara Allah bekerja, dan kita sebagai manusia jangan memaksakan Allah hrs bekerja menurut cara / alternatif yg kita anggap paling logik.
Apakah Allah menetapkan dulu lalu mengetahui? mungkin saja.
Apakah Allah mengetahui dulu baru menetapkan? siapa yg bisa larang
Apakah Allah secara simultan mengetahui dan menetapkan? siapa yg tau.

BTW,
Menurut anda, Bagaimana proses penetapan Allah?
Apakah melalui berkehendak, befirman, pengetahuannya, atau lainnya?
Dan
Bagaimana anda mengartikan tentang Allah yg tdk berubah?
Apakah Allah statis ibarat batu? Atau dalam diri Allah tidak boleh ada dinamika?

satu prinsip yg harus anda ketahui adalah Allah tidak bertentangan dgn Diri-Nya sendiri atau bertentangan dgn atribut2-Nya sendiri. Allah cukup pd Diri-Nya sendiri dan tidak bergantung kpd sesuatu di luar Diri-Nya sendiri. Saya sudah berulang kali menjelaskan bahwa yg ditentang oleh calvinis adalah ajaran non-calvinis yg mengajarkan bahwa Allah melihat terlebih dahulu apa yg akan dilakukan oleh manusia, yg artinya Pengetahuan Allah bergantung kpd ciptaan-Nya. ini yg ditolak, pahami ini dulu.

Jd persoalan sesungguhnya bukan masalah menetapkan terlebih dahulu atau mengetahui terlebih dahulu melainkan point dibalik ajaran non-calvinis yg menggunakan istilah mengetahui terlebih dahulu drpd menetapkan utk mengajarkan bahwa Allah melihat apa yg dilakukan manusia terlebih dahulu, shg ketetapan Allah bergantung kpd apa yg dilakukan manusia, dan tanpa disadari oleh mereka ajaran tsb sedang menyatakan bahwa Allah bergantung kpd ciptaan-Nya, bahkan Pengetahuan-Nya bergantung kpd ciptaan-Nya, ajaran ini absurd krn Pencipta tidak bergantung kpd Ciptaan, jika Pengetahuan Pencipta bergantung kpd ciptaan maka itu artinya sebelum ada ciptaan Sang Pencipta tidak Maha Tahu dan itu artinya Allah secara essensi berubah, ini absurd.

Kedua, ketidak berubahan Allah bukan statis spt batu yg anda maksud, itu ajaran aristoteles. Ajaran Kristen bukan demikian, ajaran Kristen mengimani bahwa Allah tidak berubah secara essensi (seluruh atribut2-Nya). ketika Sang Pencipta berelasi dgn ciptaan-Nya, kita bisa melihat kedinamisan Allah, namun kedinamisan Allah tsb tidak menyebabkan Allah berubah.

Atau dgn kata lain di dalam ke statisan-Nya (Allah tidak berubah) kita bisa melihat kedinamisan-Nya, dan kedinamisan-Nya tsb bgn dari ke statisan-Nya.
Saya kasih contoh sederhana: di dalam peristiwa2 yg terjadi di dalam sejarah , kita seakan-akan melihat bahwa rencana Allah berubah2 ketika berelasi dgn manusia, namun sesungguhnya kedinamisan tsb bgn dari rencana-Nya yg tidak berubah yg telah ditetapkan sejak semula. Atau dgn kata lain apa yg terjadi didalam sejarah pd akhirnya menggenapi rencana-Nya yg telah ditetapkan Allah sejak semula.

Ketiga, saya pribadi tidak memahami ketetapan Allah sbg suatu proses. Dlm bahasa manusia kita menyebutnya sbg ketetapan karena suatu peristiwa tsb dipastikan terjadi atau ditetapkan terjadi makanya disebut ditetapkan, kalo ditetapkan berarti tidak berubah dan pasti terjadi. jika anda Tanya dasar dari ketetapan tsb maka dasarnya adalah Kehendak dan Pengetahuan-Nya. ketika saya mengatakan kehendak dan Pengetahuan-Nya, jgn dipahami secara terpisah, karena Kehendak dan Pengetahuan Allah adalah satu kesatuan, shg kita tidak bisa memahami bahwa pengetahuan-Nya berbeda dgn Kehendak-Nya.
Pengetahuan-Nya bukanlah suatu proses, shg tidak ada kondisi dimana pengetahuan-Nya berubah. Jika Pengetahuan-Nya tidak berubah maka Ketetapan-Nya juga tidak berubah.

MEN_SUPERNOVA wrote:

berdasarkan pernyataan anda diatas maka saya tanya bung wilefhas62, apakah menurut anda org2 yg mengimani bahwa "Allah melihat terlebih dahulu" adalah manusia2 yg "sok tahu"?

Ya, dalam hal ini benar, bhw saya sok tahu.
Artinya dgn berlaku sok tahu, maka saya membuktikan bhw ternyata banyak kemungkinan.
Artinya dgn sok tahu pula, saya mengatakan supaya kita tdk membuat doktrin dari hasil ke soktahuan kita.
Kalau hanya sekedar menjelaskan, bagi saya ok ok saja.

Berlaku sok tahunya anda , bukan membuktikan bahwa ternyata byk kemungkinan kebenaran melainkan justru ketidakbenaran. Bahkan anda sendiri sudah menjelaskan diatas bahwa “dgn sok tahu pula, saya(wilefhas62) mengatakan supaya kita tdk membuat doktrin dari hasil ke soktahuan kita.”

Artinya anda sendiri mengakui bahwa doktrin “Allah melihat terlebih dahulu” bukan berdasarkan Firman Tuhan melainkan berdasarkan ke sok tahuan anda. maka sesuai dgn pernyataan anda diatas, jgn membuat doktrin dr hasil kesoktahuan anda apalagi mempertahankannya.

ini namanya anda tidak konsisten dgn pernyataan anda sendiri. yaitu mempertahankan dan membuat doktrin dr kesoktahuan anda dan menggunakannya utk melawan ajaran2 yg di dasari oleh prinsip2 yg diajarkan di dalam Alkitab.

MEN_SUPERNOVA wrote:

apakah anda tidak membaca penjelasan2 saya sebelumnya?? bukankah saya sudah menjelaskan bahwa penjelasan " Allah lebih dulu menetapkan shg mengetahui " semata2 utk mempermudah di dlm menjelaskan, dan di dlm penjelasan saya berikutnya saya menjelaskan bahwa dlm hal ini tidak ada urutan krn pengetahuan Allah dan ketetapan-Nya saling terkait tidak terpisahkan. silakan baca lagi postingan2 saya sebelumnya.

kalau demikian, jika saya mengatakan Allah mengetahui lebih dulu baru menetapkan seharusnya tdk perlu anda tentang, karena hal ini juga dimaksudkan hanya untuk keperluan menjelaskan.

sekali lg, saya sudah pernah menjelaskan permasalahan ini di postingan awal2 mengenai apa yg sebenarnya ditolak oleh ajaran calvinis dlm hal ini.

saya jelaskan sekali lg. yg ditentang oleh calvinis adalah ajaran non-calvinis yg mengajarkan bahwa Allah melihat terlebih dahulu apa yg akan dilakukan oleh manusia, yg artinya Pengetahuan Allah bergantung kpd ciptaan-Nya. ini yg ditolak, pahami ini dulu. Jd persoalan sesungguhnya bukan masalah menetapkan terlebih dahulu atau mengetahui terlebih dahulu melainkan point dibalik ajaran non-calvinis yg menggunakan istilah mengetahui terlebih dahulu drpd menetapkan utk mengajarkan bahwa Allah melihat apa yg dilakukan manusia terlebih dahulu, shg ketetapan Allah bergantung kpd apa yg dilakukan manusia, dan tanpa disadari oleh mereka ajaran tsb sedang menyatakan bahwa Allah bergantung kpd ciptaan-Nya, bahkan Pengetahuan-Nya bergantung kpd ciptaan-Nya, ajaran ini absurd krn Pencipta tidak bergantung kpd Ciptaan, jika Pengetahuan Pencipta bergantung kpd ciptaan maka itu artinya sebelum ada ciptaan Sang Pencipta tidak Maha Tahu dan itu artinya Allah secara essensi berubah, ini absurd.

Inilah point yg sesungguhnya ditentang oleh Calvinist, krn dibalik istilah “Allah melihat terlebih dahulu” org non-calvinist mengajarkan bahwa Allah melihat apa yg akan dilakukan manusia terlebih dahulu, yg implikasinya artinya Allah bergantung kpd manusia.

MEN_SUPERNOVA wrote:

kedua, calvinist tidak mengajarkan bahwa ketetapan2-Nya tanpa juntrungannya atau suka-suka mentang-mentang berdaulat, melainkan berdasarkan hikmat dan bijaksana-Nya.

apakah hanya sebatas hikmat dan bijaksananya?

kalimat “hikmat dan bijaksananya” sudah dpt merangkum hal tsb.

MEN_SUPERNOVA wrote:

ketiga, justru saya menjelaskan bahwa ketetapan2-Nya berjalan sinkron dgn atribut2 Allah.

berarti Allah menetapkan berdasarkan keseluruhan kemahaan Alllah.
Jadi pernyatan anda sebelumnya, sdh tdk diperlukan.

spt saya katakan diatas kata “Hikmat dan Bijaksana-Nya” sudah dpt merangkum hal tsb.
Sederhana saja, saya Tanya bung wilefhas62, apakah hikmat dan bijaksana-Nya menyebabkan Allah tidak adil??

MEN_SUPERNOVA wrote:

mengapa calvinist sering2 berbicara tentang ketetapan dan kedaulatan-Nya karena konteks pembicaraan-Nya berhubungan dgn hal tsb, bukan krn lebih mengagungkan hal tsb.

mungkin istilah mengagungkan tdk tepat, tapi say melihat bhw kalvinis mengutamakan hal tersebut, shg yg lain diabaikan.

ini artinya anda keliru memahami Calvinist. Jika anda sungguh2 mempelajari secara mendalam tentang Calvinist, justru anda akan melihat semua hal secara balance sesuai dgn porsi dan posisinya. Anda mungkin sering melihat org2 calvinist mengutamakan Kedaulatan Allah ketika berdiskusi di forum2 krn justru org Calvinist melihat bahwa byk ajaran Kristen yg sudah menyimpang dgn membuang kedaulatan Allah yg digantikan oleh kedaulatan manusia yg menentukan. Shg utk mengcounter ajaran2 yg sudah menyimpang tsb , org2 calvinist menunjukkan posisi Kedaulatan Allah yg benar. Ketika posisi kedaulatan Allah dan kebebasan manusia ditaruh pada posisi yg benar maka ajaran tsb baru benar. Anda bisa baca tentang hal ini dari buku A.W Pink dgn judul “Kedaulatan Allah”.

MEN_SUPERNOVA wrote:

spt yg dinyatakan di dalam ef 1:11
Aku katakan "di dalam Kristus," karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya

saya tanya bung wilefhas62, apakah ayat tsb mengagung2kan kedaulatan-Nya shg "Allah dibelenggu oleh kedaulatannya dan kedaulatan Allah lah yg jadi Allah??"

tdk,
bahkan Nats tsbt sama sekali tdk menyinggung ttg kedaulatan, namun kehendak.
Dan tentu saja kehendak Allah “ditrigger” oleh : Kasih, Kuasa, Keadilan, kesucian, kedaulatan,dll, dsb dan kita tdk pernah tau mana yg dominan dari atribut tersebut dalam menentukan kehendak allah.

betul, ayat tsb bukan sedang mengagung2kan kedaulatan Allah. namun anda keliru ,jika menganggap nats tsb tidak berhubungan dgn kedaulatan Allah. kalimat “segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya”, menunjukkan Kedaulatan Allah. anda bilang nats tsb berhubungan dgn Kehendak-Nya, jawaban-Nya betul sekali. Jika Allah tidak berdaulat atau setan lebih berdaulat atau manusia lebih berdaulat, apakah segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya?

nats tsb justru sedang menunjukkan bahwa apa yg terjadi sesuai dgn keputusan kehendak-Nya maka krn kehendak-Nya yg terjadi, itu menunjukkan kedaulatan Allah. alias tidak ada suatu apapun yg menyebabkan segala sesuatu tidak bekerja menurut keputusan kehendak-Nya.

MEN_SUPERNOVA wrote:

tidak ada yg mengatakan bahwa Allah bertindak tanpa Alasan, tetapi calvinist mengajarkan bahwa alasan tsb berdasarkan hikmat dan bijaksana-Nya.

bukan hanya sebatas itu kan?
Tapi juga berdasarkan kasih, keadilan kesucian dll.
Dan dlm konteks penebusan, Yoh 3:16, jelas yg ditonjolkan adalah kasihNya, bukan kedaulatan atau kuasaNya

sekali lg kalimat “hikmat dan bijaksana-Nya” sudah merangkum hal tsb. Sekali lg saya Tanya bung wilefhas62, apakah menurut anda hikmat dan bijaksana-Nya tidak Kasih?? apakah menurut anda hikmat dan bijaksana-Nya tidak adil?? apakah menurut anda hikmat dan bijaksana-Nya tidak suci??
Jika anda jawab ya, maka itu artinya anda sudah meragukan akan hikmat dan bijaksana-Nya.

MEN_SUPERNOVA wrote:

sekali lg sebelum penciptaan tidak ada durasi waktu.
dan masalah rencana-Nya juga sudah saya berikan sbgn ayat2nya diatas.
Saya Tanya anda, berdasarkan ayat2 yg saya berikan, apakah menurut anda Allah lupa atau enggan atau santai aja dulu??

tanpa durasi, maka tdk ada urutan, shg kita tdk tau mana yg terjadi lebih dulu
tanpa durasi, maka Allah tdk ada waktu untuk santai, kan waktu belum “eksis”

betul, tidak ada urutan,makanya saya mengatakan, “urutan” sebatas penjelasan agar mudah dipahami. Sekali lg pahami, yg ditolak oleh Calvinist sesungguhnya bukan masalah urutannya melainkan ajaran dibalik istilah “Allah melihat terlebih dahulu”.

Kedua, yg memunculkan “istilah Allah ada waktu santai” adalah anda dan bukan saya. Coba dibaca lg tanggapan2 saya tentang hal ini, jgn2 anda salah paham dgn tanggapan saya.

MEN_SUPERNOVA wrote:

jadi ayat2 yg saya berikan diatas, menurut bung wilefhas62 berarti ada "masalah" dlm diri Allah?? atau Allah terlalu lama memendam hasrat-Nya??
saya kasih satu ayat lagi

1 ptr 1:20
Ia telah dipilih sebelum dunia dijadikan, tetapi karena kamu baru menyatakan diri-Nya pada zaman akhir.

ayat diatas menyatakan bahwa Yesus telah dipilih sebelum dunia dijadikan namun pada zaman akhir baru menyatakan diri-Nya. dari penciptaan sampai pada zaman Yesus adalah ribuan tahun, lalu menurut anda, ada "masalah" dlm Diri Allah?? atau Allah terlalu lama memendam hasrat-Nya??

Ya tdk lah bro, kasih Nats kok begitu?
Kan pada Nats yg bro berikan, alasannya jelas kenapa menunda, yaitu “karena kamu”
Jadi bukan tanpa alasan.
Tapi jika Allah berencana, lalu baru merealisasikan setelah berabad-abad, dan tanpa alasan, maka itu baru santai namanya.
lagi pula, buat apa Yesus lahir buru-buru?
Mungkin sekarang ini, Allah sedang memendam hasratnya untuk mengumpulkan tebusanNya di Sorga, namun Allah memilih untuk bersabar dgn tujuan yg jelas.

Bro, pahami terlebih dahulu mengapa saya memberikan ayat tsb dan mengapa saya bertanya spt diatas.
Hal ini dimulai krn anda mempertanyakan tentang rencana-Nya yg kekal yg kemudian baru diwujudkan kemudian di dalam sejarah, anda tidak setuju dgn hal tsb shg menyatakan bahwa hal tsb menunjukkan ada "masalah" dlm Diri Allah.(coba baca lg postingan2 sebelumnya).

Oleh krn itu saya memberikan ayat tsb dan mempertanyakan kpd anda. jd pointnya bukan pada “alasannya”. Saya juga mengimani bahwa Allah tidak langsung mewujudkan rencana-Nya krn ada “Alasan” sesuai yg sudah Ia tetapkan menurut “waktu dan kehendak-Nya”.
Namun bukan itu point awal yg dipermasalahkan melainkan , anda keberatan bahwa Allah memiliki rencana sejak kekal, kemudian baru diwujudkan di dalam sejarah. Dan bagi anda itu menunjukkan bahwa “ada masalah dlm Diri Allah.”

MEN_SUPERNOVA wrote:

Allah tetap Kasih, ada anda atau tidak ada anda.

Bukan itu konteksnya,
Saya hanya bertanya :
Apakah Allah bisa mengasihi yg tdk ada?
Jadi tdk perlu melebar kemana-mana

Kalo yg anda maksud adalah perwujudan kasih-Nya kpd org yg blm ada, tentu belum.
Namun jika Ia berencana/menetapkan bahwa Ia akan menciptakan A dan mewujudkan kasihnya tsb di dalam sejarah. Tentu bisa, dlm pengertian blm diwujudkan.
Sekarang saya Tanya, apa point argumentasi yg ingin anda sampai dgn hal ini, supaya lebih jelas.

MEN_SUPERNOVA wrote:

pertama-tama, ketika seseorg bertanya, maka ia bertanya karena ia ingin mengerti. dan ketika org tsb menolak jawaban yg bisa dimengerti, artinya org tsb sesungguhnya tidak perlu/menginginkan jawaban. jika demikian maka utk apa bertanya??

dari sini maka silakan anda nilai sendiri motivasi anda ketika bertanya.

saya bertanya agar dapat mengimani dengan Iman yg benar

saya setuju sekali, jika itu memang sungguh2 motivasi anda.
namun ironisnya adalah apa yg anda lakukan bertentangan dgn motivasi anda tsb.

Spt yg saya katakan diatas, ketika seseorg bertanya, maka ia bertanya karena ia ingin mengerti. dan ketika org tsb menolak jawaban yg bisa dimengerti, artinya org tsb sesungguhnya tidak perlu/menginginkan jawaban.

Jika demikian, bukankah anda sudah menentukan terlebih dahulu jawaban yg anda inginkan, yaitu jawaban yg tidak dpt dimengerti?? Lalu darimana anda tahu benar dan salah, jika anda tidak mengerti??
Jika anda sudah menetapkan demikian lalu utk apa bertanya?? Sudah paham maksud saya??
Jika masih blm paham secara singkat saya kasih lihat ironisnya sbb:

Anda mengatakan “saya bertanya agar dpt mengimani dgn iman yg benar”, ironisnya adalah anda mengatakan bahwa “anda bertanya” namun sesungguhnya anda tidak perlu / menginginkan jawaban.

Anda mengatakan “saya bertanya agar dpt mengimani dgn iman yg benar”, ironisnya adalah anda
“Ingin iman yg benar” tetapi menolak pengertian, jika menolak pengertian maka anda tidak tahu benar dan salah.

MEN_SUPERNOVA wrote:

kedua, pernyataan anda diatas sudah berkontradiksi. ketika anda menyatakan bahwa seharusnya yg logis adalah spt yg saya jelaskan namun kemudian anda tolak sbg sesuatu yg tidak logis maka disitu sudah berkontradiksi.

Banyak penjelasan yg anda pandang logis, namun jika diteliti lebih la njut mengabaikan banyak hal yg tertulis dlm alkitab.
Contoh :
Sering anda berkata bhw tdk ada diluar diri Allah yg bisa mempengaruhi Allah dlm bertindak, karena jika demikian maka Allah sdh tdk berdaulat lagi.
Pernyatan anda ini sangat logis, karena Allah tdk mungkin bisa diatur atw dipaksa.
Dilain pihak :
Yoh 3:16 menyebut : “ Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”
Ini sepertinya ini tdk logis
Namun inilah yg saya percaya

Yoh 3:16 tidak bertentangan dgn apa yg saya jelaskan.

Kesalahan mendasar di dalam pemahaman anda adalah tidak membedakan antara Sang Pencipta dan yg dicipta. Hal yg paling dasar perbedaan antara Sang Pencipta dan yg dicipta adalah Allah tidak bergantung kpd sesuatu di luar Diri-Nya atau biasa disebut Independent sedangkan semua ciptaan-Nya bergantung kpd Allah (atau dependent). Ketika kita memahami bahwa Allah adalah Allah yg independent dan ciptaan-Nya bergantung total kpd Allah maka keberadaan ciptaan-Nya tidak dpt terpisah dari Allah atau tidak dpt berdiri sendiri barang sedetikpun tanpa kebergantungan kpd kuasa pemeliharaan Allah. artinya Allah mengatur, memenuhi kebutuhan dan memelihara segala sesuatu tanpa kecuali. Dari yg terbesar sampai yg terkecil , setiap aspek dr ciptaan secara keseluruhan bergantung kpd Allah utk keberlangsungan keberadaannya. Ketika kita mempercayai Allah sbg Pencipta maka harus pula memercayai Allah sbg Tuhan yg mengontrol sejarah. Dunia tidak dpt berlangsung dgn kekuatannya sendiri. Segala keberadaan adalah dari Allah dan melalui Allah. oleh karena itu kita harus berpikir bahwa ciptaan secara keseluruhan bergantung kpd Allah. dari sini kita bisa melihat Kedaulatan Allah atas segala ciptaan-Nya.
Sehingga dgn prinsip ini kita bisa melihat ajaran2 yg keliru dan yg menyimpang.

Kedua, Kesalahpahaman org non-calvinis thdp ajaran calvinis adalah menganggap bahwa Kedaulatan Allah membuang tanggung jawab manusia. Padahal bukan itu yg diajarkan oleh Calvinist, melainkan kedaulatan Allah memang tidak dpt diganggu gugat, namun kehendak dan ketetapan2-Nya bukan digenapi dgn memaksa manusia ,melainkan digenapi melalui kebebasan manusia yg bertanggung jawab.

Mungkin supaya lebih jelas, saya berikan sebuah contoh sbb:

Spt yg saya sudah jelaskan diatas bahwa Allah berdaulat sepenuhnya atas ciptaan-Nya. Allah yg mengatur, memenuhi kebutuhan dan memelihara segala sesuatu tanpa kecuali. Itu sebabnya Yesus mengatakan di ayat berikut ini:

Mat 6:25 - 32
"Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?

26 Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?
27 Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?
28 Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal,
29 namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu.
30 Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya?
31 Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?
32 Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.

Namun, saya Tanya bung wilefhas62, apakah ketika Yesus mengatakan kalimat “Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai” berarti Yesus sedang membuang tanggung jawab manusia utk bekerja dan berjerih payah??

Jawaban saya , tidak demikian maksud Yesus. Walaupun kita dianjurkan utk tidak khawatir akan makanan dan pakaian, kita tetap dianjurkan utk bekerja dan berjerih payah utk mendptkan semua itu.perhatikan yg saya underline dan bold.

2 Tes 3:10-12
10 Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.
11 Kami katakan ini karena kami dengar, bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna.
12 Orang-orang yang demikian kami peringati dan nasihati dalam Tuhan Yesus Kristus, supaya mereka tetap tenang melakukan pekerjaannya dan dengan demikian makan makanannya sendiri.

kej 3:17-19
17 Lalu firman-Nya kepada manusia itu: "Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu:
18 semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu;
19 dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu."

Dari ayat2 diatas kita bisa melihat antara kedaulatan Allah atas pemeliharaan ciptaan-Nya dan tanggung jawab manusia. disini kita harus bisa melihat secara integritas keseluruhan Firman Tuhan.

Ketika Yesus menyatakan kalimat-Nya di Mat 6:25, secara konteks Yesus ingin menekankan kedaulatan Allah atas pemeliharaan ciptaan-Nya. itu sebabnya Yesus mengatakan jgn khawatir, mengapa dikatakan jgn khawatir, krn Allah sepenuhnya berdaulat atas pemeliharaan ciptaan-Nya. kekhawatiran menunjukkan bahwa murid2 kurang percaya atas pemeliharaan Ilahi. Kemudian sekali lg, Yesus menunjukkan kedaulatan Allah di ayat 27, Yesus mengatakan, “Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?”

Disini Yesus ingin menekankan bahwa kita tidak memiliki kemampuan dari diri kita sendiri utk menambah sehasta saja pd jalan hidup kita. Krn semuanya itu semata-mata anugerah dari Allah saja. Jd jika itu adalah Anugerah Allah maka jgnlah itu di klaim sebagai usaha atau kemampuan dr diri kita sendiri. Jd jika kita memiliki makanan dan pakaian, itu semuanya adalah anugerah, jgn diklaim sebagai kemampuan dari diri sendiri, krn Bapa mengetahui semua kebutuhan kita. Jgnlah kita menganggap bahwa Bapa memberikan ,dipengaruhi berdasarkan atas apa yg kita lakukan. Krn jika demikian nanti akan ada yg klaim bahwa ia sudah menambah sehasta pd jalan hidupnya. Perhatikan apa yg dikatakan oleh Yesus di ayat 26 “Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga”
Yesus tidak mengatakan bahwa krn burung itu menabur dan menuai maka burung itu diberi makan oleh Bapamu di sorga. Artinya Anugerah Allah sepenuhnya adalah kedaulatan Allah dan bukan dipengaruhi oleh perbuatan seseorg atau sesuatu. Krn jika tidak demikian maka bukan lagi anugerah namanya melainkan upah.

Sekarang setelah kita paham bahwa Allah berdaulat sepenuhnya atas pemeliharaan kita. Apakah itu berarti kita berdiam diri dan tidak bertanggung jawab?? Jelas, Firman Tuhan tidak mengatakan demikian. Melainkan Firman Tuhan juga mengatakan bahwa kita harus melakukan tanggung jawab kita.
Nah sekarang, apakah kedua hal tsb bertentangan?? Jawaban saya tidak. justru keduanya akan sinkron ketika kita memahami keduanya secara benar. Jadi sekali lg, ketika Yesus mengatakan kalimatnya di Mat 6:25-32, secara konteks Yesus ingin menekankan kedaulatan Allah atas pemeliharaan ciptaan-Nya shg kita tidak perlu khawatir krn Allah yg memelihara, hal ini tidak berarti kita lepas tangan dgn tidak bertanggung jawab, sebaliknya Firman Tuhan juga menyatakan bahwa kita diperintahkan utk bertanggung jawab. Walaupun kita bertanggung jawab, bukan berarti itu adalah kemampuan dari diri kita sendiri melainkan semuanya tsb bergantung kpd Anugerah Allah semata. Inilah yg harus kita pahami. Prinsip2 ini ada diseluruh Alkitab.
Jadi kesimpulannya, kita sbg org Kristen harus mengimani bahwa Allah berdaulat sepenuhnya atas pemeliharaan ciptaan-Nya, shg kita tidak perlu khawatir akan hal itu. Namun bukan berarti kita tidak bertanggung jawab. Jika diaplikasikan ke makanan dan pakaian maka Allah berdaulat sepenuhnya atas pemeliharaan makanan dan pakaian kita dan kita diperintahkan utk tidak khawatir akan hal tsb krn Bapa mengetahui semua kebutuhan kita tsb. Namun kita tetap bertanggung jawab utk bekerja dan berjerih lelah, namun ketika kita memiliki makanan dan pakaian, jgnlah kita menganggap bahwa itu semua adalah hasil dari kemampuan diri kita melainkan semua itu harus kembali dipahami sebagai Anugerah dari Allah semata, krn jika Allah tidak memberikan Anugerahnya, mau sampai matipun kita tidak dpt menambahkan apapun dlm hidup kita. Karena kita sbg ciptaan sepenuhnya bergantung kpd Allah.
Sekarang balik ke Yoh 3:16, spt yg saya katakan hal ini tidak bertentangan dgn ajaran calvinis.

Karena kedaulatan Allah tidak membuang tanggung jawab manusia. Keselamatan sepenuhnya adalah Anugerah Allah. dan Ia berhak memberikan Anugerahnya kpd siapa dan berbelas kasihan kpd siapa. Inilah kedaulatan Allah. Keselamatan yg diberikan Allah kpd seseorg bukan krn dipengaruhi oleh apa yg dilakukan oleh org tsb, krn jika demikian keselamatan bukan lg Anugerah melainkan upah.

Ketika kita sudah memahami bahwa keselamatan sepenuhnya adalah Anugerah Allah, maka kita juga hrs memahami bahwa hal ini tidak berarti manusia tidak bertanggung jawab. Namun adalah sebuah kekeliruan jika menganggap bahwa keselamatan tsb dipengaruhi berdasarkan tanggung jawab manusia tsb.

Spt halnya contoh makanan diatas, adalah sebuah kekeliruan jika kita menganggap bahwa Allah memberikan makanan dan pakaian krn dipengaruhi tanggung jawab kita yg sudah bekerja. Kita lebih daripada burung, jika burung diberi makan semata2 krn Anugerah Allah apalagi manusia.
Jd adalah sebuah kekeliruan jika anda menafsirkan bahwa Yoh 3:16 berarti keselamatan dipengaruhi oleh manusia. Melainkan justru Yoh 3:16 harus dipahami bahwa kebebasan dan tanggung jawab manusia pd akhirnya menggenapi rencana-Nya yg kekal, dimana mereka yg percaya adalah mereka yg dipilih-Nya, dan mereka yg tidak percaya adalah mereka yg dibiarkan di dalam kebinasaan mereka sendiri.

Saya berikan salah satu contohnya yaitu:
Kis 13:48 Mendengar itu bergembiralah semua orang yang tidak mengenal Allah dan mereka memuliakan firman Tuhan; dan semua orang yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal, menjadi percaya

Perhatikan ayat diatas, ayat diatas tidak mengatakan krn mereka menjadi percaya maka mereka menjadi org yg ditentukan Allah utk hidup yg kekal. Artinya pemilihan Allah atau predestinasi Allah bukan dipengaruhi oleh ciptaan-Nya, sebaliknya ayat tsb justru menjelaskan bahwa semua org yg ditentukan Allah utk hidup kekal menjadi percaya. Artinya yg menjadi penyebab seseorg menjadi percaya adalah krn org tsb telah ditetapkan oleh Allah utk hidup kekal, shg mereka yg ditetapkan tsb menjadi percaya.

Hal ini sinkron dgn Rom 8:29-30 yg menjadi ordo keselamatan.

Jd sekali lg adalah sebuah kekeliruan jika anda memahami Yoh 3:16 sbg pengaruh manusia atas ketetapan Allah, sebaliknya Yoh 3:16 harus dipahami bahwa mereka yg percaya adalah mereka yg dipilih-Nya.

MEN_SUPERNOVA wrote:

Ketiga, saya Tanya bung wilefhas62, apakah jawaban anda adalah berdasarkan logika manusia yg terbatas??

Ya,
Makanya saya tdk pernah menyatakan bhw apa yg saya pendapati adalah “kebenaran”

Inilah ironisnya, anda menggunakan argumentasi yg anda sendiri tidak nyatakan sbg kebenaran tetapi menggunakan argumentasi tsb utk menolak argumentasi org lain atau menyatakan argumentasi org lain keliru.

Ini sama spt misalnya Si A mengatakan bahwa panjang sebuah pita adalah 5 cm. lalu anda bilang keliru, panjang pita tsb bukan 5 cm. lalu anda mencoba membuktikan dgn alat ukur anda bahwa pita tsb bukan 5 cm menurut alat ukur anda. kemudian si A kembali bertanya pd anda, apakah alat ukur yg anda gunakan dpt dipastikan keakuratan kebenarannya?? Lalu anda jawab, saya tidak tahu alat ukur tsb benar atau tidak, dan anda mengatakan bahwa anda tidak pernah menyatakan alat ukur anda benar namun menggunakan pengukuran anda tsb utk menilai pengukuran org lain salah.
Paham maksud saya??

GBU
MEN_SUPERNOVA

Show more